Pertobatan In Action (Lukas 3: 9 – 14)

https://i1.wp.com/www.perisai.net/images/artikel/20100405030711_kebangkitan_kristus_membawa_pertobatan.jpg

(Dibawakan dalam Acara Radio Mora, Bandung)

Saudara pendengar setia Radio Mora yang dikasihi Tuhan. Sangat menarik bagi saya ketika mengingat kenangan manis dikala masih mahasiswa STT HKBP Pematang siantar sekitar 33 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1978. Ketika di sore hari, saya bersama dengan dua orang rekan mahasiswa datang ke rumah keluarga dosen orang Barat. Setelah kami menginjakkan kaki di dekat pintunya, sang dosen begitu ramah dan senyum menyapa kami dengan ucapan: Good evening, How are you, what can i do for you? (Selamat sore, apa khabar, apa yang boleh saya lakukan untuk anda?). Menarik dan berkesan bagi saya karena dengan keramahannya beliau menyambut  dan menyapa kami dan memberikan apa yang kami perlukan dan butuhkan.

Saudara, pertanyaan “ apakah yang harus kami perbuat” dari orang banyak kepada Yohanes Pembaptis kala itu ketika Yohanes mengumandangkan seruan “pertobatan”. Pertobatan yang tidak hanya dalam kata-kata, tidak hanya dalam teori dan pemahaman dogmatis sesuai kaidah agamanya masing-masing, tetapi pertobatan yang penampakannya terwujud dalam kata maupun perbuatan kesehariannya. Pertobatan yang tidak hanya Omdo (omong doang), atau tidak hanya NATO (No Action Talk Only), tetapi pertobatan yang seirama kata dengan perbuatan.Karena iman tanpa disertai dengan perbuatan nyata  pada hakekatnya adalah mati.

Saudara, Kalau tidak bertobat, kata Yohanes pembaptis, maka murka Allah akan datang dan pasti datang.Pohon yang tidak berbuah akan ditebang dan dibuang ke dalam api.Karena itu, pesan yang disampaikan  adalah anggaplah kesabaran Allah kalau masih diberikan kepada kita untuk bertobat. Jangan terlambat, lakukan sekarang juga.

Tobat tau bertobat dalam Perjanjian Lama bahasa Ibrani memakai kata Syuv berarti berputar, berbalik kembali, mengacu kepada tindakanberbalik dari dosa kepada Allah. Kembalilah, berbalik dari dosa dan datang kepada Allah.Jangan mendurhakaiNya. Dengan kata lain bertobat  bukan berubah agama, tetapi meneguhkan kembali kepercayaan dan ketaatan pribadi kepada Allah.Cakupan pertobatan melebihi dukacita, penyesalan dan perubahan tingkah laku lahiriah. Dalam keadaan apa pun pertobatan yang sungguh kepada Allah mencakup merendahkan diri, hati batiniah.Perubahan hati yang sungguh dan benar-benar merindukan Allah.

Saudara, tobat dan perobatan dalam Perjanjian baru   dalam bahasa Yunani memakai kata “metanoia  dan metanoeo”artinya bertobat, menyesal, memperbaiki kesalahan. Artinya juga perubahan hati  yakni pertobatan nayata dalam pikiran, sikap, pandangan dan arah yang sama sekali berubah, putar balik dari dosa kepada Allah dan mengabdi kepadaNya.Pertobatan adalah syarat  mutlak untuk beroleh keselamatan. Dengan kata lain, keselamatan mustahil diperoleh tanpa pertobatan. Iman tanpa pertobatan bukanlah iman yang membewa kepada keselamatan.

Saudara, Injil Lukas yang kita dengarkan tadi mencatat tiga golongan dalam masyarakat setelah Yohanes pembabtis menyerukan pertobatan dengan pertanyaan dari mereka : Apakah yang harus kami perbuat?

Golongan pertama:Jawaban Yohanes kepada orang banyak: Tingkatkan solidaritasmu atau kepedulian sosialmu. Solidaritas dalam bentuk pakaian dan makanan (kebutuhan dasar) atau basic needs. Aplikasinya, kita bersyukur karena sudah banyak kepantiaan Natal dari dulu sampai sekarang dalam program dan anggarannya sudah memperhatikan lingkungannya, misalnya bernatal  bersama ke Panti-panti Asuhan , ke Lembaga Pemasyarakatan dank e tempat-tempat lain dan memberikan bingksan natal termasuk di dalamnya makanan dan pakaian.Kesadaran untuk berbagi kasih inilah yang perlu dan selalu ditingkatkan dengan tidak memandang suku, agama, ras  dan golongan dari mana pun yang kita layani.Karena dengan melakukan kepedulian seperti ini, kita telah melakukan perintah Tuhan dalam Mat 25: 31 – 46. Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang saudaraKu yang palingn hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku, kata Yesus.Karena itu, motivasi kita untuk peduli, menolong dan memperhatikan orang lain karean Tuhan telah lebih dahulu peduli, menolong dan mengasihi kita. Karena itu sudah merupakan kewajiban dan keharusan orang percaya untuk menolong dan mengasihi saudaranya yang membutuhkan.

Saudara, Golongan kedua, Jawaban Yohanes Pembabtis kapada Pemungut Cukai, atau petugas pajak. “Jangan menagih lebih banyak daripada yang telah ditentukan bagimu”. Dengan kata lain, Laksanakan tugasmu sesuai dengan aturan yang sudah ditetapkan, jangan menyalahgunakan jabatan, kekuasaan untuk memperkaya diri atau korupsi. Karena akar segala kejahatan  adalah cinta uang. Sebab orang memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka ( 1 Tim 6: 10). Pertanyaan, sekaligus renungan bagi kita sebagai anak bangsa yang beragama, tidakkah sudah banyak diantara kita  sesuai dengan posisi dan jabatannya  sudah sering menggunakan jabatan atau kekuasaan  telah menagih lebih daripada apa yang telah ditentukan.Sehingga keberagaam kita   sudah banyak hanya bungkus, kulit, luar  atau kasingnya  yang bagus tetapi di dalamnya atau isinya  penuh dengan kebusukan dan kemunafikan. Sehingga kita sering masih dalam tahap beragama tetapi belum beriman. Kalau sudah beriman maka otomatis beragama.Jadi perlu pertobatan in action.

Golongan yang ketiga: Jawaban Yohanes terhadap para prajurit atau angkatan. “Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu”.Realitasnya pada jaman itu bahwa para prajurit romawi banyak yang merampas dan memeras rakyat, tidak mengucapsykur akan gajinya. Saya kurang tahu, kebiasaan para  prajurit yang tidak terpuji dan memalukan itu terjangkit kepada para prajurit dan angkatan kita sekarang. Harapan dan doa kita mereka tidak melakukan hal seperti itu.Tetapi kalau ternyata masih ada, mari lakukan pertobatan in action dan syukurilah apa yang ada pada kita, jangan tamak dan rakus.

Saudara, kiranya melalui renungan pagi hari ini boleh mengingatkan kita agar pertobatan in action  segera kita lakukan dan berkata dan punya komitmen  dan berkata:  Tuhan, aku mau melakukan seturut dengan kehendakMu”. Aku mau peduli terdapan orang lain, aku tidak menyalahkan jabatan dan kekuasaanku utuk menagih lebih daripada yang sudah ditentukan, aku tidak mau memeras dan merampas hak orang lain, tetapi aku menyukuri apa yang Tuhan berikan kepadaku. Jadi focus pelayanan kita bukan tertuju untuk diri sendiri tetapi untuk orang lain.Karena lebih berbahagia memberi daripada menerima.Kiranya melalui advent yang ketiga ini mengingatkan kita akan kualitas keberagamaan kita dalam pertobatan in action. Karena setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik akan ditebang dan dibuang ke dalam api. Sekali lagi, iman tanpa disertai dengan perbuatan pada hakekatnya adalah mati. Selamat melakukan pertobatan in action. Tuhan Yesus memberkati.

 

Iklan

Buku Hati Yang Terbagi (2011)

Tiada seorangpun diantara kita yang menginginkan hati, kasih sayang, cinta dan perhatian orang lain terbagi yang seharusnya itu adalah hak atau milik kita sendiri, sehingga anak kecil yang begitu polos dan jujur mengatakan: “aku ingin dan rindu papa yang dulu, bukan papa yang sekarang”.

Dari ke lima belas orang lagi calon-calon hamba Tuhan telah memberikan kesaksian pergumulan hidupnya yang menggetarkan hati dan menyentuh masalah-masalah untuk menentukan masa depan karena sosial ekonomi keluarga, kuasa Tuhan atau kuasa dukun dan aneka ragam kesaksian lainnya.

Lalu, bagaimana kesaksian calon-calon hamba Tuhan ini memebrikan kesaksian yang begitu ajaib dan luar biasa atas pertolongan Tuhan dan memberikan solusi mengatasi pergumulan hidupnya? Mari, miliki buku ini segera karena buku ini pasti memebrikan inspirasi dan aspirasi dan panduan bagi kita untuk menghadapi pergumulan hidup selanjutnya.

Kebersamaan Dalam Keluarga Berlandaskan Firman Tuhan

KEBERSAMAAN DALAM KELUARGA BERLANDASKAN FIRMAN TUHAN

Suatu Refleksi dari Filipi 2: 1 –  8

 

Problematikanya

Masalah yang membuat kebersamaan keluarga tidak harmonis dalam keluarga yang berdasarkan firman Tuhan  disebabkan karena setiap elemen dalam keluarga  (suami, isteri dan anak) mempunyai sikap yang egois, tidak melakukan fungsi dan tanggungjawabnya masing-masing, bahkan masing-masing sering membanding-bandingkan kebersamaan dengan keluarga yang lain  untuk membela sikap dan tindakan yang menguntungkan bagi diri dan hidupnya. Studi banding dalam hal positif dan konstruktif tidak masalah tetapi jika sutdi banding dalam hal negatif destruktif dapat menghancurkan kebersamaan keluarga.

 

Fungsi dan Tanggungjawab Suami, Isteri dan Anak

Suami:

  1. Sebagai imam dalam keluarga yang mempunyai prinsip yang kokoh dan teguh (Yosua 24: 15 c)
  2. Mengasihi isteri sebagaimana Kristus menghasihi jemaatNya (Ef 5: 25)
  3. Mengasihi isteri seperti tubuhnya sendiri (Ef 5: 25) dan jangan membangkitkan amarah anak-anaknya (Ef 6: 4).

Isteri:

  1. Tunduk dan patuh kepada suami seperti kepada Tuhan (Ef 5: 22 – 24)
  2. Cakap dan bijak kepada suami dan anak-anaknya (Ams 31: 10 – 31)
  3. Menuntun dalam iman dan terus mendoakan ( 2 Tim 1: 5).

Anak:

  1. Taat  dan hormat kepada orangtua (Ef 6: 1 – 3, Kel 20: 12, Ams 3: 1 – 2)
  2. Percaya, mengakui dan memuliakan Tuhan dalam kehidupannya (Ams 3: 5 – 9)
  3. Menuntut ilmu dan takut akan Tuhan (Ams 1: 7).

 

 

 

Lalu apa yang dilakukan dari perspektif Flp : 2:1-8

  1. Mari hidup dalam, untuk, oleh dan sesuai dengan kehendak Tuhan.
  2. Marilah hidup sehati sepikir, dalam satu kasih satu jiwa dan satu tujuan.
  3. Tidak egois dan mencari pujian yang sia-sia.
  4. Rendah hati seperti Yesus Kristus.
  5. Lakukanlah tugas, fungsi dan tanggung jawab masing-masing di dalam takut akan Tuhan.

Kata-kata bijaksana dalam kebersamaan keluarga

  1. Tidak ada hubungan, kesatuan atau kebersamaan yang lebih indah, lebih bersahabat dan lebih menyenangkan daripada pernikahan yang baik (Marthin Luther).
  2. Seorang isteri yang baik dan kesehatan yang baik, adalah kekayaan terbaik seorang pria (Benyamin Franklin).
  3. Ukuran sejati dari mengasihi adalah mengasihi tanpa ukuran (St. Bernard).
  4. Orang yang lemah tidak pernah dapat mengampuni. Pengampunan adalah sifat orang yang kuat (Mahatma Ghandi).
  5. Seorang isteri yang saleh tidak perlu mengomel, mengancam, memohon atau merengek. Ia hanya harus menjadi wanita agung sesuai dengan panggilan Allah. Percayalah, suaminya akan memperhatikannya (Eddie Long).
  6. Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya ? ia lebih berharga daripada permata (Amsal 31:10).
  7. Cinta tidak mudah mati. Cinta adalah sesuatu yang hidup. Cinta tetap tumbuh subur ditengah kesulitan hidup kecuali jika diabaikan (James D. Bryden).
  8. Pernikahan yang bahagia bukan karena kita menemukan pasangan yang cocok tetapi karena kita mau menjadi pasangan yang cocok. Janganlah kita memaksa pasangan kita yang mencocokan diri dengan kita tetapi kitalah yang harus mencocokan diri dengan pasangan kita (Rubin Adi Abraham).
  9. Tujuan pernikahan bukan untuk memiliki pemikiran yang sama, melainkan untuk berpikir bersama (Robert C. Doods).
  10. Pernikahan yang berhasil adalah semua bangunan megah yang harus diperbaiki setiap hari (Andre Maurios).

Pdt. Jahenos Saragih

Cat : Ringkasan Bahan Sharing PWG Sektor 1 dan 2

GKPS Bandung, Sabtu 25 Juni 2011 di Gunung Puntang

Banjaran, Bandung

Teologi Penatalayanan Keuangan GKPS

1. Pendahuluan

Istilah “penatalayanan” di GKPS sudah sangat popular khususnya sejak dikeluarkannya Keputusan Synode Bolon  GKPS No. II tahun 1996, ( 15 tahun yang lalu)  dimana  sejak tahun itu telah ditetapkan Peraturan Penatalayanan Keuangan GKPS. Peraturan tersebut hanya mencakup hal-hal yang berhubungan dengan keuangan, tetapi setidak-tidaknya kita telah memahami arti dan tujuan istilah penatalayanan tersebut selaku pelayan GKPS.

2.     Penatalayanan Menurut PL dan PB

Penatalayanan menurut PL  artinya “kepala rumah tangga” (Kej 44: 19), atau “kepala rumah” (Kej 44: 4), artinya orang yang kepadanya dipercayakan tanggungjawab dan tugas untuk mengepalai  serta mengurus harta serta kegiatan di dalam rumah tangga. Istilah lain dipakai juga kata “hamba” yang lahir dalam rumah tangga , yang diterima dan memperoleh hak sebagai pewaris (Kej 15: 3 – 4). Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penatalayanan adalah orang yang dipercayai dan diberi hak serta tangungjawab untuk mengepalai, mengatur dan mengerjakan segala sesuatu yang dipercayakan kepadanya.

Penatalayanan dalam PB dijelaskan  bahwa seseorang yang  mendapat kehormatan dan kepercayaan untuk melaksanakan suatu tugas tertentu. Jadi “ penatalayanan Kristen” ialah semua orang Kristen yang dipercayakan atau mendapat kehormatan untuk mengepalai dan mengatur serta mengerjakan pelayanan Kristus yang dimandatkan  secara penuh (Bd. 1 Kor 4: 1 – 2, Tit 1: 7, 1 Pet 4: 10, Mat 28: 19 – 20).

Dari penjelasan di atas, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan, antara lain:

  1. Penatalayanan adalah orang yang mendapat kepercayaan untuk  melakukan tugas tertentu.
  2. Penatalayanan memperoleh hak dan tanggungjawab  penuh untuk menjalankan tugas yang telah dilimpahkan kepadanya.
  3. Penatalayanan bertanggungjawab atas tugas yang dipercayakan kepadanya dan ia bertanggungjawab  kepada pemimpinnya  atas pelaksanaan tugas tersebut.
  4. Penatalayanan bekerja atas nama dan untuk kepentingan tuannya.
  5. Setiap orang Kristen  adalah penatalayan Kristus yaitu orang yang dipercaya dan ditugaskan  untuk melaksanakan pekerjaan Allah dengan hak yang penuh yang telah diserahkan kepadanya dan ia sepenuhnya melayani atas nama Allah serta bertangguingjawab  kepada Allah atas pelaksanaan semua pekerjaan yang diserahkan kepadanya.

Allah sebagai pencipta alam semesta adalah pemberi mandat, kuasa penuh  kepada umatNya. Sebagai pemberi mandat, kuasa penuh, pemilikan penuh  ada pada Allah (Mzm  24: 1, Yes 66: 2) dan di pihak lain sebagai penerima mandat, umat Allah memiliki kepercayaan dan wewenang penuh untuk menatalayani segala milik Allah yang dipercayakan Allah kepadanya (Kej 1: 28, Mat 28: 19 – 20). Umat Allah atau kita semuanya sebagai penerima mandat penatalayanan harus mengabdi dan penuh tanggungjawab dan wajib melaksanakannya. Mandat penatalayanan Allah didasarkan dan didukung  oleh perjanjian berkat Allah sehingga dimana umat Alah menatalayani milik Allah dengan penuh tanggungjawab, di sana aka nada berkat Allah (Mat 28: 20 b).

Lingkup penatalayanan umat  Allah meliputi semua ciptaan Allah termasuk alam dan isinya, waktu, harta, diri, rumah tangga, gereja dan masyarakat (Kej 1: 28,2: 25, Yes 45: 12, Yoh 13: 15 – 17, Kol 1: 17). Kapasitas kemampuan umat Allah untuk mengerjakan penatalayanan  milik Allah telah diberikan oleh Allah sehingga tidak ada umatNya yang dapat berdalih untuk tidak melaksanakan tugas penatalayanan Allah ( 1 Pet 4: 10, 1 Kor 4: 1, 1 Rj 19: 9, Kel 19: 4 – 6).

Tugas penatalayanan dapat dipahami sebagai tugas pengantara berkat Allah, maka umat Allah dituntut untuk membuktikan ketaatan kepada Allah sebagai syarat mutlak untuk membuktikan bahwa umat Allah sedang terlibat dalam misi penatalayanan Allah yang dipercayakan kepadanya.

3.     Kuasa Penatalayanan

Kuasa untuk melaksanakan penatalayanan Allah ada pada Allah dan ketaatan kita untuk melaksanakan tugas penatalayanan akan membuktikan bahwa tugas penatalayanan berjalan dengan baik dan berhasil. Ketaatan merupakan faktor  terutama dan terpenting, karena penatalayanan Allah adalah kewajiban umat Allah yang tidak dapat ditunda atau ditawar-tawar.Tuhan Yesus secara tegas menggambarkan penatalayanan sebagai bagian utuh dari kedatanganNya ke dunia ini dengan mengatakan “ datang bukan untuk dilayani melainkan melayani” (Mrk 10 : 45). Tugas yang dilaksanakanNya adalah tugas dari Bapa yang mengutusNya. Tugas itu merupakan  suatu tanggungjawab dan kepercayaan Bapa kepadaNya yang harus dilaksanakan secara menyeluruh  dan penuh tanggungjawab.

Setiap orang Kristen yang terlibat dalam penatalayanan  merupakan alat Allah untuk melebarkan kerajaanNya dengan tanggungjawab untuk membawa berita pembebasan kepada dunia. Dengan melaksanakan tugas ini maka orang Kristen adalah teman sepelayanan (partner) dengan Kristus  dalam kerajaan Allah. Tujuan operasional  penatalayanan Yesus adalah melayani dan bekerja. Motif  pelayananNya adalah kasih. Yesus melayani dengan kasih dan rela mempersembahkan diri dan nyawa sebagai korban karena  dosa dan pelanggaran manusia. Paulus juga meneladani pelayanan Yesus (2 Kor 5: 14 – 15). Bila kasih Kristus telah menjadi motif penatalayanan orang Kristen, maka ia pasti melaksanakan penatalayanan Allah secara objektif dengan tidak egois. Dasar dan pola penatalayanan Yesus dilukiskan dengan kata “berkorban” dan inilah juga yang diteladani penatalayan Kristen termasuk di dalamnya Pengurus Seksi di setiap tingkatannya. Pengorbanan yang membawa dampak positif bagi seksi atau  jemaatNya.

4.     Penatalayanan Gereja

Penatalayanan gereja  yang patut dan membawa kemajuan bagi perkembangan gereja haruslah seperti yang dilakukan Yesus sebagai “Penatalayan Agung”. Yesus telah melengkapi  gereja dengan karunia rohani bagi umatNya dalam rangka pelaksanaan penatalayanan Allah di dalam dan melalui gereja. Rasul Paulus dengan tegas menyinggung  peranan karunia rohani  dalam rangka penatalayanan gereja ( 1 Kor 12 – 14). Jadi penatalayan gereja berarti:

  1. Penatalayanan gereja adalah penatalayanan Allah yang bertujuan membangun tubuh Kristus demi kepentingan bersama.
  2. Setiap orang Kristen adalah penatalayanan Allah yang terlibat dalam penatalayanan gereja.
  3. Kepada setiap orang Kristen Allah menganugerahkan karunia rohani untuk melaksanakan tugas dalam penatalayanan gereja, jadi karunia dan potensi itu harus dipertanggungjawabkan  dalam kesatuan membagun tubuh kristus.

Dalam Mzm 24: 1 disebutkan “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang ada di dalamnya”. Jadi segala sesuatu yang ada, yang nampak dan tidak nampak adalah milik Alah yang harus ditatalayani dengan penuh tanggungjawab. Karena itu semua penatalayanan Kristen perlu menyadari bahwa  apapun yang dimilikinya diterima dari Tuhan dan harus didaya-gunakan sesuai dengan kehendak Tuhan.

5.     Sikap Penatalayanan terhadap Benda dan Uang

 Sikap Terhadap Benda

Setiap manusia membutuhkan sesuatu termasuk benda untuk memenuhi kebutuhannya. Apapun yang dibutuhkan harus diperlakukan sebagai alat, bukan sebagai tujuan, karena jikalau benda telah menjadi tujuan utama,  maka orang mulai terjerumus kepada materialisme. Jadi sikap yang diperlukan yaitu:

  1. Pemilikan benda atau harta adalah anugerah dan kepercayaan Tuhan yang harus diatur atau dipakai dengan penuh hikmat.
  2. Uapaya-upaya yang diadakan untuk memperoleh benda bukanlah merupakan tujuan akhir.
  3. Kelebihan benda harus ditata, disimpan dan diberikan kepada yang memerlukan, dilakukan secara berimbang dan menjaga dan mencegah  pemborosan yang melambangkan kecerobohan dan keangkuhan sosial.
  4. Penggunaan benda adalah tanggungjawab yang diberikan  Allah dan pada akhirnya  harus dipertanggungjawabkan sebaik-baiknya.
  5. Benda harus digunakan untuk melayani Tuhan bukan untuk diri sendiri.

Sikap Terhadap Uang

  1. Sikap pemberian uang  dilaksanakan atas prinsip kasih.
  2. Setiap pemberian uang harus dilakukan secara sukarela, baik kepada sesama maupun untuk pekerjaan Tuhan.
  3. Setiap pemberian uang adalah berkat  dimana memberi adalah merupakan tindakan ketaatan  dan itu adalah berkat, karena Allah berjanji memberkati orang yang memberi.
  4. Hampir setiap minggu kita menjyanyikan lagu: KJ No.287 b: Sekarang Bersyukur; KJ No. 367: 1: Padamu Tuhan dan Allahku; KJ No. 365 c: Tuhan Ambil Hidupku; KJ No. 393: Tuhan Betapa Bannyaknya; KJ No. 403: 1: Hujan Berkat kan Tercurah. Tetapi dimana aplikasi dan implikasinya.

Berdasarkan hal di atas, maka gereja sebagai persekutuan orang-orang percaya dipanggil dan dikuduskan oleh Allah serta diutusNya ke dunia untuk melaksankan tugas  bersekutu, bersaksi dan melayani. Panggilan dan pengutusan itu disertai dengan pemberian  berbagai karunia rohani atau talenta kepada umatNya. Kekayaan karunia atau talenta  yang diberikan Allah harus dimanajemeni dengan sebaik-baiknya bagi terwujudnya  tugas dan panggilan gereja itu sendiri.

6.     Manajemen, Administrasi dan Pengawasan

Inti administrasi adalah manajemen, inti manajeman adalah kepemimpinan, inti kepemimpinan adalah pengawasan, komunikasi, motivasi dan pengambilan keputusan. Sebagaimana kita pahami dan imani dari kesaksian Alkitab  bahwa pelaksanaan  tugas panggilan gereja dalam persekutuam, kesaksian dan pelayanannya merupakan tanggungjawab setiap orang percaya. Dengan kata lain, setiap warga jemaat  secara bersama-sama  merasa memiliki (science of belonging)   beban  baik  dalam daya, dana dan sarana dan prasarana dan merupakan pernyataan syukur atas segala berkat-berkat Tuhan. Pertanggungjawaban tidak saja terarah kepada Allah tetapi juga  kepada jemaat  beserta seluruh warganya.

Berkenan dengan tugas pengelolaan  keuangan gereja, ada beberapa landasan teologis Alkitabiah yang boleh dijadikan sebagai dasar yaitu:

  1. Lks 16: 10 – 13: Setia dalam perkara kecil
  2. Lks 14: 28 – 30: Perencanaan anggaran
  3. Flp 4: 10 – 20:  Pertanggungjawaban
  4. Mat 18: 15 – 18: Pengawasan

Melalui manajemen, administrasi pengawasan sesuai dengan perencanaan program kerja dan anggarannya boleh berjalan dengan baik sesuai dengan landasan teologis dan praktis di lapangan, khususnya dalam konteks ini Seksi seksi sesuai dengan tingkatannya di GKPS Resort Bandung ini. Melalui pembinaan Pengurus Seksi Resort dan Jemaat ini diharapkan  setiap seksi sudah berjalan dengan Peraturan Seksi masing-masing demi kemuliaan Tuhan. Sukacita dan kebahagiaan bagi kita, apabila Tuhan Yesus masih memberikan kesempatan bagi kita bekerja dan melayani di ladang Tuhan melalui Seksi masing-masing. Giatlah selalu dalam pekarjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia ( 1 Kor 15: 58).

Bandung, Medio Juni 2011

Pdt. Jahenos Saragih

Firman Tuhan bagian dari hidup

Nats      : Yeremia 15: 16

Thema  : Firman Tuhan bagian dari hidup

Tujuan: Agar Wanita semakin memahami pentingnya penghayatan akan Firman Tuhan

 

Latar belakang

Panggilan Yeremia menjadi nabi sudah ditetapkan Tuhan ketika ia masih dalam kandungan ibunya, kemudian sudah diangkat dan diutus  ketika ia masih muda dan belum pandai berbicara, sementara tugas dan tanggungjawabnya begitu berat  untuk mengingatkan para pemimpin dan bangsa Israel yang sudah menyimpang dari kehendak Tuhan (Bd. Yer 1: 4 – 10). Bangsa Israel telah murtad  dari Tuhan (Bd. Yer 2), baik raja  para imam dan juga rakyatnya, sehingga pada akhirnya mereka terbuang ke pembuangan Babel dan Assur. Malapetaka  akan menimpa Yerusalem dan Yehuda (Yer 6). Dosa mereka yakni menyembah baal, keras kepala, tegar tengkuk dan sombong (Yer 10). Jadi sebagai manusia Yeremia mempunyai tantangan dan pergumulan yang berat yang tidak hanya mengutukinya bahkan taruhan nyawa mengancam dia karena memberitakan firman Tuhan.

 

Refleksi bagi Yeremia.

Dengan pergumulan yang berat itu Yeremia yakin Tuhan mengetahui dan pasti menolong dan memberikan solusi atas pergumulan hidup pelayanannya, sehingga ia yakin pertemuan dengan Tuhan yang mahakuasa melalui firmanNya akan memberikan kekuatan dan kenikmatan  baginya dan menjadi keinginan baginya, menjadi  kesukaan  hatinya , karena ia dipakai Tuhan sebagai alatNya .

 

Refleksi bagi Wanita.

Ditengah-tengah aneka ragam  pergumulan yang dihadapi apakah masalah sosial ekonomi, sakit penyakit, faktor lingkungan, masalah anak , dlsbnya, jika berserah dan menghayati firman Tuhan pasti aka ada solusi yang terbaik sehingga apa pun yang terjadi pasti  indah pada waktunya.