https://i1.wp.com/www.perisai.net/images/artikel/20100405030711_kebangkitan_kristus_membawa_pertobatan.jpg

(Dibawakan dalam Acara Radio Mora, Bandung)

Saudara pendengar setia Radio Mora yang dikasihi Tuhan. Sangat menarik bagi saya ketika mengingat kenangan manis dikala masih mahasiswa STT HKBP Pematang siantar sekitar 33 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1978. Ketika di sore hari, saya bersama dengan dua orang rekan mahasiswa datang ke rumah keluarga dosen orang Barat. Setelah kami menginjakkan kaki di dekat pintunya, sang dosen begitu ramah dan senyum menyapa kami dengan ucapan: Good evening, How are you, what can i do for you? (Selamat sore, apa khabar, apa yang boleh saya lakukan untuk anda?). Menarik dan berkesan bagi saya karena dengan keramahannya beliau menyambut  dan menyapa kami dan memberikan apa yang kami perlukan dan butuhkan.

Saudara, pertanyaan “ apakah yang harus kami perbuat” dari orang banyak kepada Yohanes Pembaptis kala itu ketika Yohanes mengumandangkan seruan “pertobatan”. Pertobatan yang tidak hanya dalam kata-kata, tidak hanya dalam teori dan pemahaman dogmatis sesuai kaidah agamanya masing-masing, tetapi pertobatan yang penampakannya terwujud dalam kata maupun perbuatan kesehariannya. Pertobatan yang tidak hanya Omdo (omong doang), atau tidak hanya NATO (No Action Talk Only), tetapi pertobatan yang seirama kata dengan perbuatan.Karena iman tanpa disertai dengan perbuatan nyata  pada hakekatnya adalah mati.

Saudara, Kalau tidak bertobat, kata Yohanes pembaptis, maka murka Allah akan datang dan pasti datang.Pohon yang tidak berbuah akan ditebang dan dibuang ke dalam api.Karena itu, pesan yang disampaikan  adalah anggaplah kesabaran Allah kalau masih diberikan kepada kita untuk bertobat. Jangan terlambat, lakukan sekarang juga.

Tobat tau bertobat dalam Perjanjian Lama bahasa Ibrani memakai kata Syuv berarti berputar, berbalik kembali, mengacu kepada tindakanberbalik dari dosa kepada Allah. Kembalilah, berbalik dari dosa dan datang kepada Allah.Jangan mendurhakaiNya. Dengan kata lain bertobat  bukan berubah agama, tetapi meneguhkan kembali kepercayaan dan ketaatan pribadi kepada Allah.Cakupan pertobatan melebihi dukacita, penyesalan dan perubahan tingkah laku lahiriah. Dalam keadaan apa pun pertobatan yang sungguh kepada Allah mencakup merendahkan diri, hati batiniah.Perubahan hati yang sungguh dan benar-benar merindukan Allah.

Saudara, tobat dan perobatan dalam Perjanjian baru   dalam bahasa Yunani memakai kata “metanoia  dan metanoeo”artinya bertobat, menyesal, memperbaiki kesalahan. Artinya juga perubahan hati  yakni pertobatan nayata dalam pikiran, sikap, pandangan dan arah yang sama sekali berubah, putar balik dari dosa kepada Allah dan mengabdi kepadaNya.Pertobatan adalah syarat  mutlak untuk beroleh keselamatan. Dengan kata lain, keselamatan mustahil diperoleh tanpa pertobatan. Iman tanpa pertobatan bukanlah iman yang membewa kepada keselamatan.

Saudara, Injil Lukas yang kita dengarkan tadi mencatat tiga golongan dalam masyarakat setelah Yohanes pembabtis menyerukan pertobatan dengan pertanyaan dari mereka : Apakah yang harus kami perbuat?

Golongan pertama:Jawaban Yohanes kepada orang banyak: Tingkatkan solidaritasmu atau kepedulian sosialmu. Solidaritas dalam bentuk pakaian dan makanan (kebutuhan dasar) atau basic needs. Aplikasinya, kita bersyukur karena sudah banyak kepantiaan Natal dari dulu sampai sekarang dalam program dan anggarannya sudah memperhatikan lingkungannya, misalnya bernatal  bersama ke Panti-panti Asuhan , ke Lembaga Pemasyarakatan dank e tempat-tempat lain dan memberikan bingksan natal termasuk di dalamnya makanan dan pakaian.Kesadaran untuk berbagi kasih inilah yang perlu dan selalu ditingkatkan dengan tidak memandang suku, agama, ras  dan golongan dari mana pun yang kita layani.Karena dengan melakukan kepedulian seperti ini, kita telah melakukan perintah Tuhan dalam Mat 25: 31 – 46. Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang saudaraKu yang palingn hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku, kata Yesus.Karena itu, motivasi kita untuk peduli, menolong dan memperhatikan orang lain karean Tuhan telah lebih dahulu peduli, menolong dan mengasihi kita. Karena itu sudah merupakan kewajiban dan keharusan orang percaya untuk menolong dan mengasihi saudaranya yang membutuhkan.

Saudara, Golongan kedua, Jawaban Yohanes Pembabtis kapada Pemungut Cukai, atau petugas pajak. “Jangan menagih lebih banyak daripada yang telah ditentukan bagimu”. Dengan kata lain, Laksanakan tugasmu sesuai dengan aturan yang sudah ditetapkan, jangan menyalahgunakan jabatan, kekuasaan untuk memperkaya diri atau korupsi. Karena akar segala kejahatan  adalah cinta uang. Sebab orang memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka ( 1 Tim 6: 10). Pertanyaan, sekaligus renungan bagi kita sebagai anak bangsa yang beragama, tidakkah sudah banyak diantara kita  sesuai dengan posisi dan jabatannya  sudah sering menggunakan jabatan atau kekuasaan  telah menagih lebih daripada apa yang telah ditentukan.Sehingga keberagaam kita   sudah banyak hanya bungkus, kulit, luar  atau kasingnya  yang bagus tetapi di dalamnya atau isinya  penuh dengan kebusukan dan kemunafikan. Sehingga kita sering masih dalam tahap beragama tetapi belum beriman. Kalau sudah beriman maka otomatis beragama.Jadi perlu pertobatan in action.

Golongan yang ketiga: Jawaban Yohanes terhadap para prajurit atau angkatan. “Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu”.Realitasnya pada jaman itu bahwa para prajurit romawi banyak yang merampas dan memeras rakyat, tidak mengucapsykur akan gajinya. Saya kurang tahu, kebiasaan para  prajurit yang tidak terpuji dan memalukan itu terjangkit kepada para prajurit dan angkatan kita sekarang. Harapan dan doa kita mereka tidak melakukan hal seperti itu.Tetapi kalau ternyata masih ada, mari lakukan pertobatan in action dan syukurilah apa yang ada pada kita, jangan tamak dan rakus.

Saudara, kiranya melalui renungan pagi hari ini boleh mengingatkan kita agar pertobatan in action  segera kita lakukan dan berkata dan punya komitmen  dan berkata:  Tuhan, aku mau melakukan seturut dengan kehendakMu”. Aku mau peduli terdapan orang lain, aku tidak menyalahkan jabatan dan kekuasaanku utuk menagih lebih daripada yang sudah ditentukan, aku tidak mau memeras dan merampas hak orang lain, tetapi aku menyukuri apa yang Tuhan berikan kepadaku. Jadi focus pelayanan kita bukan tertuju untuk diri sendiri tetapi untuk orang lain.Karena lebih berbahagia memberi daripada menerima.Kiranya melalui advent yang ketiga ini mengingatkan kita akan kualitas keberagamaan kita dalam pertobatan in action. Karena setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik akan ditebang dan dibuang ke dalam api. Sekali lagi, iman tanpa disertai dengan perbuatan pada hakekatnya adalah mati. Selamat melakukan pertobatan in action. Tuhan Yesus memberkati.