https://i1.wp.com/images.panjikristo.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SGCk2goKCCAAAHCkBU81/pray_hands.jpg

Saudara yang  dikasihi Tuhan….Tujuan utama pendidikan agama Kristen  ada 4 hal yakni: Pertama: Learning to  know (belajar untuk mengetahui), artinya ada peningkatan pengetahuan tentang Allah dan firmanNya). Kedua, Learning to do (belajar untuk berbuat atau melakukannya), artinya memiliki keterampilan untuk melakukannya dalam praktika kehidupannya). Ketiga, Learning to be artinya memiliki jati diri dan mampu menyatakan keberadaannya dalam kehidupan sehari-hari. Memiliki eksistensi dan identitas yang jelas. Keempat, Learning to live together artinya menyadari betul bahwa hidup tidak mingkin sendirian tetapi hidup bersama-sama dengan orang lain, sehingga hidupnya boleh menjadi berkat bagi orang lain. Saudara, pertanyaan kritis yang perlu direnungkan dan dilaksanakan adalah sudah tahap dimana kualitas  iman keberagamaan  saya dan saudara? Mari kita koreksi diri apakah masih tahap 1, 2, 3  atau 4, atau ke empat-empatnya sudah menjadi bahagian kehidupan kita?

Saudara…. Sekitar tahun 1996 yang lalu atau  16 tahun yang lalu, ketika  ada pertemuan dari semua tokoh-tokoh agama se Propinsi Lampung maka pak Danrem pada saat itu memberikan  pengarahan dan kata sambutan yang mengatakan “ saya senang apabila semua tokoh-tokoh agama di Provinsi Lampung  ini  tidak hanya mengajarkan kepada umatnya untuk mengetahui  dan menghapalkan ayat-ayat kitab suci masing-masing, tetapi yang lebih dipentingkan dan lebih  dibutuhkan  pada saat ini adalah mengaplikasikan ayat-ayat kitab sucinya  dalam kehidupannya sehari-hari”. Kami para tokoh-tokoh agama pada saat itu saling berpandangan  dan mengiyakan perkataan beliau.  Hal ini saya pikir, himbawan beliau ini tetap relevan sampai pada saat ini dan seterusnya. Mengapa kita habis energi dan waktu yang  cukup panjang dan melelahkan  untuk berdebat  menyangkut soal dogma, ajaran, kaidah  agama masing-masing dan  mengomentari agama orang lain  sementara kita tidak melakukan dan melaksanakan ajaran atau kaidah murni tuntutan agama kita masing-masing?

Saudara…lihat dan saksikan  pada masa Yesus Ahli-ahli taurat dan orang Farisi sibuk berdebat tentang ajaran agama dengan segudang  konsep dan idenya masing-masing  dan begitu bangga dan sombong serta mengatakan  dia lebih hebat dari yang lain menyangkut soal “mengasihi” orang lain. Yesus memberikan ajaran tentang seorang yang dirampok  di tengah jalan. Maka seorang imam lewat tetapi tidak mengindahkannya, lalu lewat orang Lewi, juga tidak mengindahkannya, mereka ini adalah orang tahu banyak tentang firman Tuhan. Kemudian lewat juga seorang Samaria, setelah melihat kejadian itu,tergeraklah hatinya untuk menolong dan memberikan pengobatan sampai yang kena rampok tadi sembuh. Setelah itu Yesus bertanya kepada ahli-ahli Taurat tadi, siapakah diantara mereka yang melakukan tindakan kasih? Sudah barang tentu, jawaban mereka  dalam hatinya orang Samaria  tadi. Pesan yang disampaikan bagi kita adalah tidak hanya tahu banyak  tentang ajaran agama, bahkan seperti kamus atau konkordansi berjalan  jika ditanya,  tetapi bagaimana mengaplikasikan ajaran  atau tindakan agama itu dalam bentuk  kasih  terhadap sesama kita.

Saudara….sesuai dengan latar belakang teks dan konteksnya pada saat itu bangsa Israel dan para tokoh-tokoh agamanya sudah lari dari yang Tuhan perintahkan dan harapkan. Mereka melakukan apa yang tidak layak di mata Tuhan, terjadi kemerosotan moral dan etika, termasuk dalam keluarga imam Eli yakni anaknya Hofni dan Pinehas. Mereka mengambil yang bukan haknya (korupsi) dalam arian luas, mereka melakukan tindakan amoral, mengakibatkan lenyapnya kemuliaan Tuhan dalam hidup keseharian mereka. Sebagai imam, Eli tidak  berani tegas mengingatkan anaknya  akan perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Akibatnya pada sejarah berikutnya mereka mendapat hukuman dari Tuhan. Di saat seperti inilah Tuhan  memanggil Samuel yang masih muda menjadi hambaNya. Samuel yang dipersembahkan orangtuanya Elkana dan istrinya Hanna untuk melayani di bait Tuhan. Orangtuanya memberi nama Samuel karena  kata orangtuanya “ aku telah memintanya dari Tuhan”. Lokasi kejadiannya adalah di bait Allah di Silo pada suatu malam, ketika mereka sedang tidur. Tuhan memanggil: Samuel, Samuel, dan ia menjawab: ya Bapa, lalu berlarilah ia kepada Eli, serta katanya: Ya  bapa, bukankah bapa memanggil aku?. Tetapi Eli berkata: Aku tidak memanggil, tidurlah kembali, lalu pergilah ia tidur. Tuhan memanggil Samuel sampai tiga kali, lalu mengertilah imam Eli bahwa Tuhanlah yang memanggil itu. Sebab itu berkatalah Eli kepada Samuel: Pergilah tidur dan apabila Ia memanggil engkau katakanlah: Berbicaralah Tuhan, sebab hambaMu ini mendengar. Maka pergilah Samuel dan tidurlah ia di tempat tidurnya.  (Baca ayat 10)… Berbicaralah, sebab hambaMu ini mendengar. Speak Lord, your servant is listening.

Saudara…..Melalui panggilan ini, maka imam Eli bertanya apa yang disampaikan Tuhan kepada Samuel secara jujur, termasuk rencana Allah menjatuhkan hukuman kepada keluarga imam Eli karena tidak melakukan apa yang telah diperintahkan Tuhan. Dalam sejarah selanjutnya Tuhan pakai Samuel sebagai hambaNya  untuk memberitakan kuasa dan kehendak Tuhan bagi bangsa Israel, bahkan dalam sejarah berikutnya mengurapi pemimpin   Israel  sebagai  raja  yang memerintah dengan sistim pemerintahan Theokrasi.

Saudara……mari kita belajar teologi mendengar firman Tuhan, dari kerinduan  mendengar melalui pimpinan Roh Kudus timbul pengetahuan, iman, pengharapan  dan kasih. Sehingga Tuhan menciptakan dua telinga untuk mendengar dan hanya satu mulut. Itu berarti Tuhan mengharapkan kita lebih banyak mendengar daripada berbicara, malah lebih baik sedikit berbicara, banyak berbuat dan melakukan kebaikan. Marilah teladani sikap Samuel, ia tampil sebagai hamba yang setia, jujur, memiliki kepekaan diri yang sangat tinggi untuk mendengarkan dan melakukan firman Tuhan.Marilah menjadi pendengar yang baik dan taat sehingga ada kesadaran rohani (spiritual awareness) dan selalu berkata: “berbicaralah Tuhan sebab hambamu ini siap mendengar dan melakukan firmanMu”, jadikanlah firman Tuhan menjadi pelita dan terang bagi perjalanan hidupmu.  Shalom, Tuhan Yesus memberkati kita sekalian.Salam saya, Pdt. Jahenos Saragih.