1. Pendahuluan

Istilah “penatalayanan” di GKPS sudah sangat popular khususnya sejak dikeluarkannya Keputusan Synode Bolon  GKPS No. II tahun 1996, ( 15 tahun yang lalu)  dimana  sejak tahun itu telah ditetapkan Peraturan Penatalayanan Keuangan GKPS. Peraturan tersebut hanya mencakup hal-hal yang berhubungan dengan keuangan, tetapi setidak-tidaknya kita telah memahami arti dan tujuan istilah penatalayanan tersebut selaku pelayan GKPS.

2.     Penatalayanan Menurut PL dan PB

Penatalayanan menurut PL  artinya “kepala rumah tangga” (Kej 44: 19), atau “kepala rumah” (Kej 44: 4), artinya orang yang kepadanya dipercayakan tanggungjawab dan tugas untuk mengepalai  serta mengurus harta serta kegiatan di dalam rumah tangga. Istilah lain dipakai juga kata “hamba” yang lahir dalam rumah tangga , yang diterima dan memperoleh hak sebagai pewaris (Kej 15: 3 – 4). Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penatalayanan adalah orang yang dipercayai dan diberi hak serta tangungjawab untuk mengepalai, mengatur dan mengerjakan segala sesuatu yang dipercayakan kepadanya.

Penatalayanan dalam PB dijelaskan  bahwa seseorang yang  mendapat kehormatan dan kepercayaan untuk melaksanakan suatu tugas tertentu. Jadi “ penatalayanan Kristen” ialah semua orang Kristen yang dipercayakan atau mendapat kehormatan untuk mengepalai dan mengatur serta mengerjakan pelayanan Kristus yang dimandatkan  secara penuh (Bd. 1 Kor 4: 1 – 2, Tit 1: 7, 1 Pet 4: 10, Mat 28: 19 – 20).

Dari penjelasan di atas, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan, antara lain:

  1. Penatalayanan adalah orang yang mendapat kepercayaan untuk  melakukan tugas tertentu.
  2. Penatalayanan memperoleh hak dan tanggungjawab  penuh untuk menjalankan tugas yang telah dilimpahkan kepadanya.
  3. Penatalayanan bertanggungjawab atas tugas yang dipercayakan kepadanya dan ia bertanggungjawab  kepada pemimpinnya  atas pelaksanaan tugas tersebut.
  4. Penatalayanan bekerja atas nama dan untuk kepentingan tuannya.
  5. Setiap orang Kristen  adalah penatalayan Kristus yaitu orang yang dipercaya dan ditugaskan  untuk melaksanakan pekerjaan Allah dengan hak yang penuh yang telah diserahkan kepadanya dan ia sepenuhnya melayani atas nama Allah serta bertangguingjawab  kepada Allah atas pelaksanaan semua pekerjaan yang diserahkan kepadanya.

Allah sebagai pencipta alam semesta adalah pemberi mandat, kuasa penuh  kepada umatNya. Sebagai pemberi mandat, kuasa penuh, pemilikan penuh  ada pada Allah (Mzm  24: 1, Yes 66: 2) dan di pihak lain sebagai penerima mandat, umat Allah memiliki kepercayaan dan wewenang penuh untuk menatalayani segala milik Allah yang dipercayakan Allah kepadanya (Kej 1: 28, Mat 28: 19 – 20). Umat Allah atau kita semuanya sebagai penerima mandat penatalayanan harus mengabdi dan penuh tanggungjawab dan wajib melaksanakannya. Mandat penatalayanan Allah didasarkan dan didukung  oleh perjanjian berkat Allah sehingga dimana umat Alah menatalayani milik Allah dengan penuh tanggungjawab, di sana aka nada berkat Allah (Mat 28: 20 b).

Lingkup penatalayanan umat  Allah meliputi semua ciptaan Allah termasuk alam dan isinya, waktu, harta, diri, rumah tangga, gereja dan masyarakat (Kej 1: 28,2: 25, Yes 45: 12, Yoh 13: 15 – 17, Kol 1: 17). Kapasitas kemampuan umat Allah untuk mengerjakan penatalayanan  milik Allah telah diberikan oleh Allah sehingga tidak ada umatNya yang dapat berdalih untuk tidak melaksanakan tugas penatalayanan Allah ( 1 Pet 4: 10, 1 Kor 4: 1, 1 Rj 19: 9, Kel 19: 4 – 6).

Tugas penatalayanan dapat dipahami sebagai tugas pengantara berkat Allah, maka umat Allah dituntut untuk membuktikan ketaatan kepada Allah sebagai syarat mutlak untuk membuktikan bahwa umat Allah sedang terlibat dalam misi penatalayanan Allah yang dipercayakan kepadanya.

3.     Kuasa Penatalayanan

Kuasa untuk melaksanakan penatalayanan Allah ada pada Allah dan ketaatan kita untuk melaksanakan tugas penatalayanan akan membuktikan bahwa tugas penatalayanan berjalan dengan baik dan berhasil. Ketaatan merupakan faktor  terutama dan terpenting, karena penatalayanan Allah adalah kewajiban umat Allah yang tidak dapat ditunda atau ditawar-tawar.Tuhan Yesus secara tegas menggambarkan penatalayanan sebagai bagian utuh dari kedatanganNya ke dunia ini dengan mengatakan “ datang bukan untuk dilayani melainkan melayani” (Mrk 10 : 45). Tugas yang dilaksanakanNya adalah tugas dari Bapa yang mengutusNya. Tugas itu merupakan  suatu tanggungjawab dan kepercayaan Bapa kepadaNya yang harus dilaksanakan secara menyeluruh  dan penuh tanggungjawab.

Setiap orang Kristen yang terlibat dalam penatalayanan  merupakan alat Allah untuk melebarkan kerajaanNya dengan tanggungjawab untuk membawa berita pembebasan kepada dunia. Dengan melaksanakan tugas ini maka orang Kristen adalah teman sepelayanan (partner) dengan Kristus  dalam kerajaan Allah. Tujuan operasional  penatalayanan Yesus adalah melayani dan bekerja. Motif  pelayananNya adalah kasih. Yesus melayani dengan kasih dan rela mempersembahkan diri dan nyawa sebagai korban karena  dosa dan pelanggaran manusia. Paulus juga meneladani pelayanan Yesus (2 Kor 5: 14 – 15). Bila kasih Kristus telah menjadi motif penatalayanan orang Kristen, maka ia pasti melaksanakan penatalayanan Allah secara objektif dengan tidak egois. Dasar dan pola penatalayanan Yesus dilukiskan dengan kata “berkorban” dan inilah juga yang diteladani penatalayan Kristen termasuk di dalamnya Pengurus Seksi di setiap tingkatannya. Pengorbanan yang membawa dampak positif bagi seksi atau  jemaatNya.

4.     Penatalayanan Gereja

Penatalayanan gereja  yang patut dan membawa kemajuan bagi perkembangan gereja haruslah seperti yang dilakukan Yesus sebagai “Penatalayan Agung”. Yesus telah melengkapi  gereja dengan karunia rohani bagi umatNya dalam rangka pelaksanaan penatalayanan Allah di dalam dan melalui gereja. Rasul Paulus dengan tegas menyinggung  peranan karunia rohani  dalam rangka penatalayanan gereja ( 1 Kor 12 – 14). Jadi penatalayan gereja berarti:

  1. Penatalayanan gereja adalah penatalayanan Allah yang bertujuan membangun tubuh Kristus demi kepentingan bersama.
  2. Setiap orang Kristen adalah penatalayanan Allah yang terlibat dalam penatalayanan gereja.
  3. Kepada setiap orang Kristen Allah menganugerahkan karunia rohani untuk melaksanakan tugas dalam penatalayanan gereja, jadi karunia dan potensi itu harus dipertanggungjawabkan  dalam kesatuan membagun tubuh kristus.

Dalam Mzm 24: 1 disebutkan “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang ada di dalamnya”. Jadi segala sesuatu yang ada, yang nampak dan tidak nampak adalah milik Alah yang harus ditatalayani dengan penuh tanggungjawab. Karena itu semua penatalayanan Kristen perlu menyadari bahwa  apapun yang dimilikinya diterima dari Tuhan dan harus didaya-gunakan sesuai dengan kehendak Tuhan.

5.     Sikap Penatalayanan terhadap Benda dan Uang

 Sikap Terhadap Benda

Setiap manusia membutuhkan sesuatu termasuk benda untuk memenuhi kebutuhannya. Apapun yang dibutuhkan harus diperlakukan sebagai alat, bukan sebagai tujuan, karena jikalau benda telah menjadi tujuan utama,  maka orang mulai terjerumus kepada materialisme. Jadi sikap yang diperlukan yaitu:

  1. Pemilikan benda atau harta adalah anugerah dan kepercayaan Tuhan yang harus diatur atau dipakai dengan penuh hikmat.
  2. Uapaya-upaya yang diadakan untuk memperoleh benda bukanlah merupakan tujuan akhir.
  3. Kelebihan benda harus ditata, disimpan dan diberikan kepada yang memerlukan, dilakukan secara berimbang dan menjaga dan mencegah  pemborosan yang melambangkan kecerobohan dan keangkuhan sosial.
  4. Penggunaan benda adalah tanggungjawab yang diberikan  Allah dan pada akhirnya  harus dipertanggungjawabkan sebaik-baiknya.
  5. Benda harus digunakan untuk melayani Tuhan bukan untuk diri sendiri.

Sikap Terhadap Uang

  1. Sikap pemberian uang  dilaksanakan atas prinsip kasih.
  2. Setiap pemberian uang harus dilakukan secara sukarela, baik kepada sesama maupun untuk pekerjaan Tuhan.
  3. Setiap pemberian uang adalah berkat  dimana memberi adalah merupakan tindakan ketaatan  dan itu adalah berkat, karena Allah berjanji memberkati orang yang memberi.
  4. Hampir setiap minggu kita menjyanyikan lagu: KJ No.287 b: Sekarang Bersyukur; KJ No. 367: 1: Padamu Tuhan dan Allahku; KJ No. 365 c: Tuhan Ambil Hidupku; KJ No. 393: Tuhan Betapa Bannyaknya; KJ No. 403: 1: Hujan Berkat kan Tercurah. Tetapi dimana aplikasi dan implikasinya.

Berdasarkan hal di atas, maka gereja sebagai persekutuan orang-orang percaya dipanggil dan dikuduskan oleh Allah serta diutusNya ke dunia untuk melaksankan tugas  bersekutu, bersaksi dan melayani. Panggilan dan pengutusan itu disertai dengan pemberian  berbagai karunia rohani atau talenta kepada umatNya. Kekayaan karunia atau talenta  yang diberikan Allah harus dimanajemeni dengan sebaik-baiknya bagi terwujudnya  tugas dan panggilan gereja itu sendiri.

6.     Manajemen, Administrasi dan Pengawasan

Inti administrasi adalah manajemen, inti manajeman adalah kepemimpinan, inti kepemimpinan adalah pengawasan, komunikasi, motivasi dan pengambilan keputusan. Sebagaimana kita pahami dan imani dari kesaksian Alkitab  bahwa pelaksanaan  tugas panggilan gereja dalam persekutuam, kesaksian dan pelayanannya merupakan tanggungjawab setiap orang percaya. Dengan kata lain, setiap warga jemaat  secara bersama-sama  merasa memiliki (science of belonging)   beban  baik  dalam daya, dana dan sarana dan prasarana dan merupakan pernyataan syukur atas segala berkat-berkat Tuhan. Pertanggungjawaban tidak saja terarah kepada Allah tetapi juga  kepada jemaat  beserta seluruh warganya.

Berkenan dengan tugas pengelolaan  keuangan gereja, ada beberapa landasan teologis Alkitabiah yang boleh dijadikan sebagai dasar yaitu:

  1. Lks 16: 10 – 13: Setia dalam perkara kecil
  2. Lks 14: 28 – 30: Perencanaan anggaran
  3. Flp 4: 10 – 20:  Pertanggungjawaban
  4. Mat 18: 15 – 18: Pengawasan

Melalui manajemen, administrasi pengawasan sesuai dengan perencanaan program kerja dan anggarannya boleh berjalan dengan baik sesuai dengan landasan teologis dan praktis di lapangan, khususnya dalam konteks ini Seksi seksi sesuai dengan tingkatannya di GKPS Resort Bandung ini. Melalui pembinaan Pengurus Seksi Resort dan Jemaat ini diharapkan  setiap seksi sudah berjalan dengan Peraturan Seksi masing-masing demi kemuliaan Tuhan. Sukacita dan kebahagiaan bagi kita, apabila Tuhan Yesus masih memberikan kesempatan bagi kita bekerja dan melayani di ladang Tuhan melalui Seksi masing-masing. Giatlah selalu dalam pekarjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia ( 1 Kor 15: 58).

Bandung, Medio Juni 2011

Pdt. Jahenos Saragih