Bahan Diskusi Sermon utk Minggu, 26 Juni 2011

Ambilan: 1 Joh 4: 16 b – 21

HOLONG DO RIMPUN NI TITAH

  1. Mengasihi Allah dan manusia merupakan ciri khas dan gaya hidup orang percaya (Mat 22: 37 – 40). Kasih “agave” yang diberikan Allah harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga kasih “agave” harus mewarnai  kasih “storge, philia, eros” dan kasih yang lainnya. Pertanyaan kritis adalah apakah ciri khas dan gaya hidup mengasihi ini sudah merupakan bagian hidup keseharian kita?a
  2. Kasih yang sempurna pasti mempunyai keberanian mengatakan dan melakukan  apa yang Tuhan kehendaki (Mat 5: 37). Prinsip kebaranian mengatakan ya kepada yang ya dan tidak kepada yang tidak mempunyai resiko yang berat. Karena tidak ada kompromi kuasa terang dengan kuasa  gelap. Bere ham komentarmu mengidah realitas na terjadi itongah-tongah ni masyarakat pakon gereja bani panorang on janah baen ham solusini.
  3. Kasih yang sempurna membutuhkan pengorbanan (Yoh 3: 16). Lang pitah pengorbanan waktu, tenaga, perasaan pakon materi, tapi dihut pengorbanan nyawa. Jadi merupakan kewajiban dan keharusan bagi orang percaya untuk mengasihi Allah dan sesama manusia, karena Yesus telah lebih dahulu mengasihi kita.Jadi motif mangkaholongi lang halani “ase” tapi “halani” domma ihaholongi. Domma sonaha pengorbananmu mambalosi holong na humbani Tuhan ai?
  4. Orang yang sudah mengasihi Allah, pembuktiannya otomatis dan pasti mengasihi sesama manusia tanpa pra-syarat, tidak ada rasa dendam, tidak mengharapkan sesuatu imbalan, tidak supaya ingin disanjung dan dipuji, pnl. Artinya hubungan kasih vertikal harus terwujud dalam hubungan kasih horizontal, anggo lang sonai kasih “na marsandiwara atap manis di bibir” pakon kebohongan do ai ganupan (ay 20 – 21). Tolong pareksa ham aha pakon sonaha motivasimu mangkaholongi halak na legan.
  5. Hidup untuk saling menghasihi aima sebagai dasar untuk membangun persekutuan, membangun kesatuan,membangun kebersamaan untuk mewujud-nyatakan kasih yang sudah kita terima dari Tuhan. Kasih yang rela berkorban secara sadar dan penuh tanggungjawab. Sehingga gereja hadir menjadi berkat dan peduli terhadap lingkungannya. Hal ini boleh terwujud marhitei kekuatan, pertolongan pakon pangkasomanion ni Tuhanta Naibata Bapa, Anakni Tuhan Jesus Kristus pakon Tonduy Napansing.


Pdt. Jahenos Saragih