Saling Mengampuni

Tetapi handaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra

dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu

(Efesus 4:32)

Pada suatu ketika dalam sebuah diskusi PA ibu di salah satu jemaat, seorang ibu yang sudah berumur lima puluhan memberikan kesaksian sekaligus memberikan pertanyaan tentang pergumulan hidupnya. Ibu ini yang kita sebut sebagai Ibu “C” selalu sulit mengampuni seorang pemuda yang pernah menjadi kekasihnya 33 tahun yang lalu. Cinta mereka kandas di tengah jalan karena ada seorang wanita yang begitu agresif mendekati sang kekasih. Lalu kekasihnya tersebut tergoda dan akhirnya mereka menikah.

Setiap Ibu “C” melihat mantan kekasihnya, maka hatinya yang sudah pernah terluka tiba-tiba bangkit kembali dan kebencian itu muncul kembali walaupun sebenarnya mereka sudah sama-sama bahagia bersama dengan pasangan masing-masing. Putra-putri mereka yang dua keluarga ini bahkan sudah dewasa dan meraih sarjana. Ibu “C” ini juga sudah ratusan kali mengikuti Perjamuan Kudus, tetapi rasa bencinya masih tetap membara akibat luka batin. Pertanyaannya adalah bagaimana menghilangkan rasa kebencian ini agar tidak lagi menjadi beban hidupnya.

Dari hasil diskusi dan kesaksian yang lain dari ibu-ibu sesama peserta PA, maka Pendeta memberi kesimpulan bahwa sebagai orang Kristen yang baik dan bijaksana harus mengikuti teladan Allah dalam Yesus Kristus yang telah mengampuni segala dosa-dosa manusia. Dalam kondisi di kayu salib pun Dia berkata : “Ya, Bapa ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas23:34).

Bukti pengampunan itu tidak hanya dalam bentuk kata-kata, tetapi juga dalam bentuk perbuatan dan tindakan nyata dalam hidup sehari-hari.bukti pengampunan ini terlihat dari perbuatan dengan ramah terhadap orang lain dan penuh kasih mesra. Tidak ada dendam, luka batin apalagi sampai puluhan tahun. Ingat, kemarahan dan dendam jangan sampai matahari terbenam. Hal seperti ini merugikan secara psikologis apalagi secara teologis. Maka ampunilah orang lain sebagaimana Allah di dalam Yesus Kristus telah mengampuni kamu.

Doa   : Ajar dan tuntunlah kami Tuhan agar kami saling mengampuni karena anak-Mu Yesus Kristus telah lebih dahulu mengampuni kami. Amin.

(JS)

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)

Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku : Kasihilah isterimu seperti

dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya

(Efesus 5:33)

Andar Ismail menulis buku berjudul “Selamat Ribut Rukun”. Buku ini merupakan salah satu buku seri selamat tentang pembinaan kepada warga jemaat. Inti dari buku ini mengatakan bahwa tidak ada keluarga di belahan bumi ini yang tidak pernah ribut dalam keluarganya. Hanya saja pesan yang disampaikan dalam buku ini “Jangan lebih banyak ributnya daripada rukunnya”. Keributan yang ada menjadikan koreksi dan evaluasi diri masing-masing dalam keluarga tersebut untuk tampil lebih baik ke depan dalam membina rumah tangga damai dan sejahtera.

Tetapi realitasnya di lapangan sudah banyak jumlahnya KDRT yang dilakukan oleh suami terhadap isterinya. Bahkan ada beberapa kasus yang sampai berhadapan dengan pengadilan dan sebagian diputuskan harus bercerai. Walaupun sebenarnya konsepsi pernikahan Kristen adalah kekal karena Yesus jelas mengatakan : Karena itu apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia (Markus 10:9).

Untuk melindungi pihak yang lemah maka pemerintah membuat peraturan atau UU tentang KDRT dengan harapan melalui UU ini dapat memanilisir tindakan KDRT. Tetapi secara Teologis, Alkitab kita sudah lebih dahulu mencatat dan mengingatkan agar setiap keluarga menjadikan kasih sebagai dasar hidup suami isteri. Keharmonisan rumah tangga harus menjadi skala utama dan pertama. KDRT harus dihindarkan dalam rumah tangga, karena mereka dipersatukan dalam pernikahan agar saling mengasihi, saling menghormati, saling melayani antara yang satu dengan yang lain. Suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri, karena Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya. Dan sebaliknya isteri hendaklah menghormati suaminya dan tunduk kepadanya seperti kepada Tuhan karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat.

Kalau setiap rumah tangga Kristen selalu mengingat dan menjalankan tugas dan tanggung jawab atas hak dan kewajiban masing-masing. Maka rumah tangga Kristen dapat menjadi berkat bagi lingkungannya. KDRT tidak pernah terjadi. Hakikat manusia sebagai gambar Allah atau Imagodei menjadi kenyataan.

Doa    : Tuhan Yesus berikanlah terang dan sinar kasih-Mu dalam rumah tangga kami agar tidak terjadi KDRT, tetapi kami saling mengasihi dan menghormati.Amin

(JS)

Menjadi Teladan

Dan jadikanlah dirimu suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engakau jujur

dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu.

(Titus 2:7)

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita mendengar kata teladan bahkan kata teladan dijadikan orang sebagai nama jalan, nama sekolah atau universitas, nama gereja, nama usahanya dan ada juga yang memberikan nama anaknya. Dengan harapan dan doa baik jalan, sekolah atau universitas, gereja, usaha dan nama betul-betul sebagai teladan dalam lingkungannya. Teladan artinya patut ditiru, baik untuk dicontoh melalui kata dan perbuatan. Meneladani berarti dapat memberi teladan. Sehingga sering ada kalimat mengatakan bahwa guru atau orang tua harus dapat menjadi teladan bagi murid-murid atau anak-anaknya.

Nasihat inilah yang disampaikan oleh Paulus kepada Titus ribuan tahun yang lalu dan juga kepada kita pada saat ini agar menjadikan diri kita sebagai teladan dalam berbuat baik. Hendaklah kita jujur atau mempunyai integritas dan bersungguh-sungguh dalam pengajaran Tuhan. Basis utama agar dapat menjadi teladan harus dimulai dari diri sendiri, dari lingkungan rumah tangga masing-masing, kemudian melalui sekolah, melalui gereja, dan lembaga-lembaga yang lain. Komitmen menjadi teladan harus lahir dan hadir dari diri sendiri dan tetap konsisten. Seirama kasih dan perbuatan, tidak lain di bibir lain di hati. Lain hari ini, lain esok atau lusa. Tidak sama seperti bunglon yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Atau ke mana air mengalir, tidak mempunyai prinsip dan tekad bulat.

Memang harus diakui tidak gampang menjadi teladan dalam kata dan perbuatan. Memang tidak gampang mempunyai integritas atau kejujuran apalagi pada zaman ini. Karena orang yang jujur dan bersih pada umumnya sudah banyak dikucilkan sebagian besar orang. Sudah banyak berlaku etika situasi artinya situasi dan kondisilah yang menentukan. Akibatnya etika tanggung jawab dan moral sudah sering diabaikan. Tidakkah hal ini yang terjadi di tengah-tengah lingkungan kita, baik di gereja, di masyakat kita. Dalam situasi dan kondisi yang gelap dan kacau inilah sebagai pengikut Kristus yang setia dan sejati kita harus tampil sebagai teladan dan jujur (ya di atas ya dan tidak di atas tidak). Dengan meneladani sikap dan ajaran Tuhan Yesus Kristus menjadi teladan harus selalu berusaha dan berjuang dan selalu meminta pertolongan dan pimpinan Roh Kudus.

Doa      : Tuhan Yesus jadikan kami menjadi teladan bagi lingkungan kami dengan memegang teguh teladan yang diberikan Tuhan Yesus kepada kami. Amin.

(JS)

Menitik Laksana Hujan

Mudah-mudahan pengajaranku menitik laksana hujan, perkataanku menetes laksana embun,

Laksana hujan renai ke atas tunas muda, dan laksana diurus hujan ke atas tumbuh-tumbuhan.

Sebab nama Tuhan akan kuserukan : Berilah hormat kepada Allah kita,

(Ulangan 32:2-3)

Masih segar dalam ingatan kita bahwa kemarin tanggal 31 Oktober adalah hari Reformasi khususnya bagi gereja-gereja yang beraliran Lutheran di seluruh penjuru dunia. Tokoh Martin Luther menjadi sentral dan terkenal dengan istilah Sola Fide, Sola Gratia, dan Sola Schriptua. Artinya hanya karena Iman, hanya karena Angerah dan hanya Alkitab satu-satunya sumber kebenaran. Ajaran ini selalu mengingatkan kita untuk memahami segala sesuatu karya Tuhan baik suka dan duka melalui Iman memahami dan mengimani bahwa segala sesuatu yang kita miliki hanya kerena anugerah dan kasih sayang Tuhan. Sumber segala kebenaran adalah Alkitab, bukan buku-buku lain atau pendapat para pakar ilmu pengetahuan.

Melalui tokoh Martin Luther ini, kita diingatkan lagi kepada salah satu tokoh PL yang bernama Musa yang dipercayakan Allah membawa umat Israel keluar dari perhambaan Mesir. Tokoh besar PL ini selalu memberikan aspirasi dan inspirasi bagi dunia pendidikan dan gereja masa kini. Tokoh kita ini digolongkan kepada nyanyian Musa tentang hubungan pengalaman pribadinya dengan Tuhan dalam menjalankan panggilan dan suruhan sebagai hamba Tuhan. Nyanyian ini diungkapkan pada detik-detik akhir kepemimpinannya  sebelum diserahkan kepada pengantinya Yosua.

Dalam ayat 1 dikatakan agar memasang telinga hai langit dan bumi karena Musa akan berbicara melalui mulutnya. Musa mengharapkan agar ajarannya menitik laksana hujan, perkataan menetes laksana embun yang dapat memberikan kesegaran ke atas tunas muda dan tumbuh-tumbuhan. Nama Tuhan akan diserukan dan memberi hormat kepada Allah kita. Ditengah-tengah kegersangan dan kekeringan tanah hati manusia sekarang ini sangat dibutuhkan titik air hujan, tetesan embun ke atas tunas muda dan tumbuh-tumbuhan agar menghasilkan buah yang lebat pada musimnya. Sehingga nama Tuhan selalu dimuliakan dan memberi hormat kepada Allah kita. Akhirnya misi pendidikan gereja yang selalu Reformis dapat memperbaharui perjalanan gereja untuk semakin lebih baik dan lebih sejahtera dan semuanya itu demi nama dan hormat kepada Tuhan Allah kita.

Doa   : Tuhan Yesus jadikan kami sebagai alatmu. Amin.

(JS)

Peganglah Apa yang Ada Padamu

Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu,

supaya tak seorang pun mengambil mahkotamu

(Wahyu 3:11)

Sesuai dengan tahun kalender gerejawi, bahwa saat ini adalah akhir tahun gereja dan minggu depan kita sudah memasuki tahun baru gerejawi yang kita sebut Advent. Melalui tahun gerejawi ini kita diingatkan untuk mengevaluasi dan tentang kerohanian kita. Apakah selama ini kita sah bersekutu dan dekat kepada Tuhan atau belum.

Melalui akhir tahun gerejawi ini juga kita semakin menyadari bahwa segala sesuatu ada masanya, segala sesuatu ada waktunya. Sama seperti yang disampaikan Pengkhotbah pasal 3. Artinya waktu yang lalu tidak akan pernah kembali lagi. Waktu terus berjalan sama seperti berjalannya air sungai yang mengalir dari hulu ke hilir. Waktu itu begitu cepat berlalu.

Pada tahun ini juga diantara kita ada yamg kehilangan keluarga yang begitu mendadak, tiba-tiba seperti pencuri malam. Kita kehilangan yang kita cintai dan sayangi selama ini. Kita mulai tersadar kembali bahwa hidup ini bukanlah milik kita untuk selamanya. Kita hanya “Nompang Kost” pada waktu yang terbatas dan bila tiba saatnya kita akan pindah ke “Rumah Bapa” yang kekal untuk selama-lamanya.

Mencermati masalah di atas maka firman Tuhan mengingatkan kita agar kita memegang teguh apa yang ada pada kita, karena Tuhan akan datang segera dan tidak ada seorang pun mengambil mahkota kita. Soal kapan dan di mana Tuhan itu datang, itu bukan urusan kita. Urusan kita adalah memegang teguh keyakinan kita kepada Tuhan Yesus. Setia kepada perinta dan firman-Nya.

Peringatan kepada jemaat Filadelfia ribuan tahun yang lalu dan juga kepada kita pada saat ini masih tetap relevan dan perlu kita jalankan, laksanakan sebaik-baiknya. Telinga, mata dan hati kita harus dipergunakan untuk mendengar dan melihat apa yang baik di mata Tuhan. Dengan memegang teguh iman kepercayaan kita kepada Tuhan, kita tidak gampang terpengaruh oleh bisikan dan pengaruh duniawi sehingga dapat mengambil mahkota yang sudah menjadi milik kita. Waspadalah dan hati-hati setiap waktu dan di setiap tempat. Setialah sampai akhir, maka mahkota kemenangan tetap menjadi milik kita. Dan kapan pun Dia datang kita sudah siap bersama-sama di Rumah Tuhan dengan orang-orang percaya lainnya.

Doa      : Tolonglah kami Tuhan agar selalu memegang teguh iman kepercayaan kami kepada-Mu, agar mahkota kehidupan itu selalu menjadi milik kami. Amin.

(JS)

Datang Seperti Pencuri Malam

Karena itu ingatlah, bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya; turutilah itu

dan bertobatlah ! karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri

dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang kepadamu

(Wahyu 3:3)

Zaman ini sering disebut zaman teknologi canggih. Siapa yang menguasai komunikasi canggih ini, dialah yang menguasai dunia. Hal ini lebih tepat berlaku dalam dunia bisnis atau usaha. Tetapi dalam dunia kerohanian juga berlaku istilah ini, yakni siapa yang menguasai komunikasi yang baik dengan Tuhan, maka dialah yang menguasai dunia masa kini dan dunia masa akhirat.

Kalau dalam dunia teknologi canggih berlaku era transparansi, tidak ada yang dapat disembunyikan karena sudah ada alat atau detektor yang merekam segala sesuatu apa yang kita lakukan. Tetapi firman Allah jauh melebihi, bahkan tidak ada tandingannya dengan alat-alat teknologi canggih buatan tangan atau keahlian manusia. Lihat saja dalam Wahyu 3:1 “… Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati”. Artinya Tuhan mengetahui segala sesuatu apa yang kita lakukan. Tidak ada tersembunyi dalam pandangan Tuhan. Semua serba transparan dan jelas di mata Tuhan. Bahkan satu helai rambut di kepala kita pun Dia tahu apabila jatuh. Motivasi kita untuk berkata dan bertindak pun sudah diketahui Tuhan. Inilah Kemahakuasaan dan Kemahatahuan Tuhan.

Hal yang pasti Tuhan akan datang seperti pencuri malam. Dia tiba-tiba datang kepada kita. Karena itu mari berjaga-jaga dan waspada. Ingat bagaimana kita telah menerima dan mendengar-Nya, mari kita menuruti perintah dan bertobatlah. Jangan terlambat dan ketinggalan kereta. Tingkatkan komunikasi dengan Tuhan. Mari tetap setia kepada Tuhan dan kepada sesama manusia sehingga kapan pun Tuhan datang kita sudah siap siaga menyambut-Nya. Pada hari “H” -nya nanti bagi kita bukan hari kematian yang kekal melainkan kita masuk ke dalam kehidupan yang kekal. Karena itu, sambutlah hari kedatangan-Nya.

Doa     : Tuhan Yesus dalam Advent ketiga ini ingatkanlah kami agar selalu hidup setia sesuai dengan kehendak Tuhan. Amin.

(JS)

Pertolongan yang Ajaib

Pertolongan kita adalah dalam nama Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi

(Mazmur 124:8)

Pada suatu kesempatan seperti seorang remaja yang bernama Andi bersama dengan sahabatnya Ando yang sama-sama kuliah ditingkat terakhir di salah satu perguruan tinggi di Medan berdiskusi tentang pengalaman jerih dan juang mereka sewaktu mulai masuk ke perguruan tinggi tersebut sampai akan mengakhiri studi mereka. Mereka berdua sama-sama mencari kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan perkuliahannya karena ketidak-mampuan ekonomi orang tuanya masing-masing.

Sepulang kuliah mereka harus bekerja keras dalam pekerjaannya masing-masing. Andi bekerja membantu cuci mobil di salah satu bengkel mobil dan Ando harus bekerja membantu di salah satu restoran makan. Tetapi sebagai mahasiswa Kristen mereka tidak pernah lupa menunaikan ibadah di gereja setiap hari Minggu. Hal ini sesuai dengan nasehat orang tua mereka masing-masing dari kampung sewaktu memberangkatkan mereka untuk berstudi di perguruaan tinggi. Dengan pergantian bulan dan tahun dan karena berkat pertolongan Tuhan yang ajaib, mereka dapat mengikuti wisuda dengan nilai sangat memuaskan.

Sama seperti pengalaman kerohanian Andi dan Ando, pada akhir tahun ini, kita juga secara jujur dapat mengevaluasi pertolongan Tuhan yang ajaib dalam hidup kita selama tahun ini. Bukan hanya karena usaha dan kepintaran kita tetapi hanya karena pertolongan dan kasih sayang Tuhan.

Pemazmur Daud meyakini bahwa segala sesuatu yang ia terima, termasuk keberhasilannya dalam aneka ragam pertemuan hidup hanya karena pertolongan dan kasih sayang Tuhan. Tuhan selalu berpihak padanya, Tuhan selalu memberkatinya. Ketekunan, kesetiaan dan perjuangan Andi dan Ando untuk mencapai cita-citanya telah terkabul. Kekurangan anggaran dana tidak membuat mereka menyerah kepada situasi, tetapi mereka bangkit berusaha dan berdoa (Ora et labora) dan berkat pertolongan Tuhan yang ajaib doa dan usaha mereka berhasil. Baik melalui pengalaman Raja Daud, maupun pengalaman kerohanian Andi dan Ando menjadi inspirasi dan aspirasi bagi kita untuk selalu bersandar kepada Tuhan atas pertolongan-Nya yang sangat ajaib menghantar kita meyakini tahun 2010 ini dan akan memasuki tahun baru 2011 ini

Doa       : Pertolongan-Mu yang ajaib Tuhan yang berlaku pada hamba-Mu Daud pada saat itu, menjadi kepastian bagi kami untuk melangkah pasti ke depan. Amin.

(JS)