PERANAN PIMPINAN GEREJA DALAM PERSATUAN

DAN KESATUAN BANGSA

  1. I. PROBLEMATIKA

Semboyan “Bhineka Tunggal Ika”, walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu juga merupakan prinsip yang harus dipedomani oleh seluruh rakyat Indonesia, tanpa membedakan latar belakang suku, agama, ras dan antar golongan.Tetapi realitasnya semboyan  dan prinsip ini  sudah mulai memudar karena berbagai faktor, antara lain: karena kepentingan politis, kepentingan ekonomis, ketidak-adilan, paradigma yang eksklusivisme kesukuan, keagamaan  yang sempit dan dangkal, dllnya. Tekad dan prinsip  para pendiri bangsa dan komitmen sumpah pemuda  untuk satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa sudah mulai longgar. Prinsip dan tekad mempertahankan NKRI  terancam goyah dan desintegrasi bangsa  mulai muncul dimana-mana karena kepentingan-kepentingan di atas. Melihat realitas yang terjadi  dalam bingkai   persatuan dan kesatuan bangsa, lalu peran apa yang dimainkan oleh para pemimpin bangsa  dan para pemimpin agama yang  di dalamnya termasuk pemimpin gereja masa kini?

  1. II. POLITISASI AGAMA

Fakta berbicara dan sejarah mencacat  mulai dari dulu sampai sekarang politisasi agama sering diperankan oleh para pemimpin  bangsa mulai dari tingkat pusat sampai ke daerah-daerah. Realitas ini lebih jelas kelihatan jika ada masa kampanye  pemilihan  kepemimpinan nasional, angota legislatif dan pemimpin Kepala Daerah. Beraneka ragam  cara, strategi dan kiat yang direncanakan sekaligus ditampilkan baik melalui media cetak maupun elektonik untuk mempengaruhi massa agar memilh pemimpin  yang telah dipersiapkan. Pengaruh uang, kuasa dan jabatan dapat menggiring masyarakat  untuk dapat menghalalkan  segala cara untuk mencapai tujuan tertentu. Nilai-nilai etika, moral dan agama sering diabaikan dan paling tragisnya  sebagian tokoh-tokoh agama terhanyut juga di dalam  masalah yang satu ini. Hal yang lebih tragis dan ironisnya lagi  apabila pada  proses masa kampanye  menggunakan  ayat-ayat  Kitab suci   tertentu  untuk melegitimasi kepentinga-kepentingan sesaat dan memakai atas dan nama Tuhan Yang Maha Kuasa, tetapi realitasnya  malah bahkan bertentangan  dengan kehendak dan perintah Tuhan itu  sendiri.

  1. III. PERANAN LEMBAGA KEAGAMAAN

Peranan Lembaga  Keagamaan yang dalam hal ini para pemimpin agama yang di dalamnya termasuk para  pemimpin gereja harus memainkan perannya untuk mengatasi masalah ini. Dari perspektif iman, walaupun kita akui krisis multidimensional  disebabkan berbagai aspek, tetapi  menurut saya “krisis multi dimensional  yang terjadi di Indonesia  sebagai pertanda  gagalnya  tokoh-tokoh  pemimimpin  lembaga keagamaan  di Indonesia termasuk didalamnya  para pemimpin gereja yang  tidak maksimal memainkan perannya”.

Pemimpin agama di Indonesia kurang mampu membina umatnya sesuai dengan tuntutan nilai-nilai  luhur agamanya masing-masing, baik mulai dari Presiden sampai ke daerah-daerah di seluruh Indonesia.

Integritas, identitas dan kredibilitas tokoh-tokoh agama, termasuk di dalamnya Kristen sangat menentukan arah  dan  warna  apakah yang mereka  mengatakan sebagai hamba Tuhan, pemimpin umat  mampu mempengaruhi  lingkungan  sesuai dengan nilai-nilai dan tuntutan murni  agamanya atau justru mereka dipengaruhi  atau terpengaruh oleh lingkungannya? Sehingga mengorbankan keinginan  dan perintah Tuhan di atas dan oleh kepentingan dan  keinginan  nafsu manusia sessaat?. Sehingga agama diperpolitisir  untuk kepentingan  dan tujuan  tertentu mengakibatkan nilai-nilai orisinilnya menjadi kabur dan hilang sama sekali.

Pertanyaan kritis adalah, apakah  para pemimpin agama Kristen di Indonesia, khususnya di Sumatera Utara  tampil sebagai alat “pemersatu dan perekat” dalam intern dan antar umat beagama atau menjadi “provokator dan pemecah-belah” intern dan antar umat bergama? Harapan saya, harapan kita dan harapan semua orang tentunya pasti  memilih alternatif yang pertama di atas yakni tampil sebagai  pemersatu dan perekat  intern dan antar umat beragama di Indonesia.

  1. IV. SOLUSI YANG DITAWARKAN

  1. Tingkatkan persatuan dan kesatuan (Yoh 17: 21). Doa Tuhan Yesus ini merupakan fondasi yang utama dan terutama  yang harus dimiliki  oleh para pemimpin Kristen, supaya dunia percaya  bahwa Yesus adalah Mesias dan Juruselamat  dunia. Ada kesatuan di dalam kepelbagaian (unity in diversity). Perpecahan  internal gereja sudah saatnya ditanggalkan dan ditinggalkan.
  1. Menjadi berkat bagi dunia dan lingkungannya (Kej 12). Hakekat orang percaya agar mampu menjadi berkat bagi dunia dan lingkungannya, baik melalui kata-kata maupun melalui perbuatannya, bukan menjadi kutuk bagi dunia dan lingkungannya.
  1. Menjadi garam dan terang dunia (Mat 5: 13 – 16). Bukan dirinya  yang kelihatan tetapi khasiatnya dan rasanya dapat memberikan kenikmatan bagi lingkungannya. Dapat dan mampu menjadi terang  ditengah-tengah hidup yang penuh dengan kegelapan.
  1. Takut akan Tuhan (Amsal 1: 7). Sebagai seorang pemimpin Kristen, dia harus menunjukkan kualitas imannya dalam berbagai aspek kehidupan. Tampil sebagai teladan dan pelopor yang mendorong agar semua umatnya takut akan Tuhan.
  1. Tegas dan berani (Mat 5: 37). Sikap etis yang tegas yang dilakukan Yesus ini harus merupakan sikap yang diteladani oleh para pemimpin Gereja. Berani dan tegas mengatakan ya di atas ya dan tidak di atas tidak. Berani mengingatkan  siapapun orangnya, termasuk para pemimpin di  daerah maupun pusat.
  1. Tidak eksklusif tetapi inklusif (Yoh 3: 16). Wawasan luas dan dalam ini  harus dimiliki oleh para pemimpin gereja, sehingga  dia tidak hanya berpikir untuk kepentingan denominasi  gereja,  agamanya sendiri tetapi untuk kepentingan nasional dan dunia.
  1. Tidak materialis (1 Tim 6: 10). Persoalan yang satu ini membuat  banyak orang yang tersandung, termasuk sebahagian  para pemimpin gereja. Kita yang mengatur dan menguasai materi (uang) bukan materi (uang) yang mengatur dan menguasai kita.
  1. dlsbnya.

Medan, Medio Maret 2010

STT Abdi Sabda Medan

Pdt.Jahenos Saragih

  • Ceramah ini disampaikan dalam  Pertemuan

Tokoh Agama se-Sumatera Utara. Tanggal 17 – 19

Maret 2010 di Hotel Pelangi Jl. Jamin Ginting

Padang Bulan Medan.