PANGGILAN DAN SURUHAN SEBAGAI PELAYAN

  1. I. Problematika

Mengerjakan tugas atau pekerjaan yang masih belum jelas atau  samar kita ketahui , boleh berakibat tugas atau pekerjaan itu  tidak berhasil secara maksimal. Saya berikan contoh kongkrit, bila seseorang   yang   membawa kenderaan apakah mobil pribadi atau bus, tetapi dia belum mengetahu rambu-rambu lalu lintas, belum jelas mengetahui alamat yang dituju, apalagi belum memiliki SIM, maka sudah dapat dipastikan tidak akan sampai ke tempat yang dituju.. Contoh kedua, apabila seorang  mahasiswa  yang disuruh dosen membuat seminar  tentang ekologi, tetapi  si mahasiswa  belum mengetahui pengertian  ekologi dan bagaimana pengaruhnya  bagi kehidupan  dan masa depan manusia, maka hasilnya tidak akan memuaskan.

Hal yang sama juga boleh terjadi dalam dunia pelayanan kita di jemaat. Kita sudah diangkat sebagai majelis (syamas) tetapi pemahaman dasar tentang panggilan dan suruhan sebagai pelayan atau hamba Tuhan  (ebed Jahwe, doulos tou theou) sesuai  dengan perspektif Alkitab masih samar bagi kita, maka hasilnya tentu saja  pelayanan kita mengecewakan dan malah menjadi batu sandungan bagi orang lain. Karena itu, hal yang pelu diketahui dan diimanai adalah  siapa yang memanggil, untuk apa dipanggil  dan ke mana dipanggil dan disuruh harus jelas. Masalah inilah yang perlu kita pelajari dan diskusikan  bersama  dalam pembinaan Majelis ini.

  1. II. KESAKSIAN ALKITAB TENTANG PANGGILAN DAN SURUHAN

  1. Abraham: Dipanggil dan diutus ke negeri  yang akan ditunjukkan Tuhan kepadanya. Tuhan akan menjanjikan Abraham menjadi  bangsa yang besar, namanya masyur dan menjadi berkat bagi dunia (Kej 12: 1 – 3)
  2. Yusuf: Hidup setia, takut akan Tuhan , kudus, tidak pendendam dan visioner (Kej 37 – 45).
  3. Musa: Dipanggil dan disuruh untuk membawa bangsa Israel dari perbudakan Mesir.Walau pada mulanya ia menolak panggilan itu dengan alasan  masih muda, tidak pendai bicara, suruh saja orang lain (Kel 4: 10 – 13).
  4. Yosua: Dalam panggilan dan suruhan kepadanya Tuhan memberikan jaminan penyertaan dan keteguhan hati (Yosua 1: 5 – 9). Sebagai seorang pemimpin ia mempunyai sikap dan prinsip  yang tegas (Yosua 24: 15).
  5. Yesaya: Ia dengan senang hati menyambut panggilan dan suruhan Tuhan dengan mangatakan: Ini aku utuslah aku! (Yes 6: 8).
  6. Yeremia: Yeremia dipanggil dan diutus Tuhan  kepada bangsanya yang penuh tantangan dan masalah. Dia juga punya alasan tidak pandai bicara dan masih muda, Tugasnya sangat berat yakni: “….untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam”.
  7. Daniel:Dalam panggilan dan suruhannya dia tekun berdoa, berani dan mempunyai roh yang luar biasa (Dan 6: 4, 11 – 12). Akibat ketekunan berdoa dan keberaniannya, maka raja Darius memberikan  kekuasaan  lebih besar kepadanya  dan memuji Allah Daniel (Dan 6: 26 – 29).
  8. Amos: Seorang peternak domba dari Tekoa yang berani menentang  ketidakadilan dan kemunafikan  baik dikalangan kerajaan maupun dikalangan pemimpin agama. Seruannya berulang-ulang dikatakan, “carilah Tuhan maka kamu akan hidup” (Amos 5:4,6,11)
  9. Yunus : Meninggalkan panggilan Tuhan untuk memberitahukan pertobatan ke kota Niniwe (Yunus 1-4)
  10. Yohanes Pembaptis : Menekankan pertobatan karena Kerajaan Sorga sudah dekat. Pemimpin yang tegas dan berani (Mat 3:1-11), pemimpin yang rendah hati (Mrk 1:7).
  11. Murid-murid Yesus : Yesus memanggil keduabelas murid-Nya untuk pergi  untuk memberitakan firman Tuhan (Mat 10: 1 – 15, Mrk 3: 13 – 19).
  12. Yesus: Inti pengajaran-Nya  mengasihi dan melayani  (Mat 22: 37 – 40, Mrk 10: 45).
  13. Paulus: Pertobatan dan perobahan nama dari Saulus menjadi Paulus. Dia tampil sebagai rasul ke seluruh penjuru bumi. (Kis 9 – 28). .
  14. Timoteus: Paulus mengingatkan syarat-syarat  menjadi penilik jemaat dan diaken (1 Tim 3:  1 – 13). Ia harus  tampil sebagai teladan: dalam perkataan, tingkah laku, dalam kasih, dalam kesetiaan dan dalam kesucian.
  1. III. KARAKTER SEBAGAI GEMBALA DAN PELAYAN YANG BAIK.

Tuhan dan Yesus adalah gembala yang baik (Mzm  23, Yoh 10). Ia membaringkan  di padang rumput yang hijau, ia membimbing ke air yang tenang, menyegarkan jiwa, menuntun ke jalan yang benar. Gembala yang baik tampil di depan, mengenal suara domba-dombanya, bahkan rela memberikan nyawa-Nya demi domba-domaba-Nya. (Yoh 10: 11). Dia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya  menjadi tebusan bagi banyak orang (Mrk 10: 45).

  1. IV. OTORITAS SEBAGAI GEMBALA DAN PELAYAN.

Roh Kudus  memberikan keberanian dan kuasa  bagi kita sebagai gembala dan pelayan  untuk tampil menjadi saksi baik di Yerusalem, Yudea, Samaria sampai ke ujung bumi (Kis 1: 8). Peranan kuasa Roh Kudus dapat mempersatukan kita dalam tugas dan tanggungjawab pelayanan sehingga kita dapat mewarisi semangat dan cara hidup jemaat mula-mula yang tekun dalam pengajaran rasul-rasul, selalu berkumpul dan berdoa, solider terhadap orang lain, sehingga mereka disukai semua orang.

  1. V. TAMPIL MENJADI SATU TIM DALAM PELAYANAN.

Kita hurus tampil menjadi satu tim, tidak egois, tetapi loyal dan rendah hati sama seperti Kristus  setia sampai mati (Flp 2: 1 – 11). Kita satu tubuh dan mari saling mengembangkan  karunia (talenta)  yang ada pada kita sehingga menjadi suatu kekuatan yang besar  dalam pelayanan ( 1 Kor 12).

  1. VI. UPAH JIKA TETAP SETIA DALAM PELAYANAN.

Sebagai majelis kita  tetap Setia  Sampai Mati (SSM) atau Setia Sampai Akhir (SSA), maka kita akan menerima mahkota  kehidupan (Wahyu 2: 10: c). Mari berdiri teguh, jangan goyah, giat selalu dalam pekerjaan Tuhan dan jerih payahmu tidak akan sia-sia (1 Kor 15: 58).

  1. VII. KUALIFIKASI MENJADI HAMBA TUHAN MENURUT 1 TIM 3: 2 – 7

  1. Kualifikasi Sosial : Tidak bercacat, punya reputasi baik, dihormati dan disegani.
  2. Kualifikasi Mental : Moral tidak diragukan dan dapat megendalikan diri.
  3. Kualifikasi Kepribadian : Bijaksana, sopan, cakap mengajar, peramah, suka memberi tumpangan dan bukan hamba uang.
  4. Kualifikasi Rohani : Dewasa rohani bukan baru bertobat agar tidak sombong
  1. VIII. STRATEGI YANG AKAN DILAKUKAN

Tingkatkan kesatuan dan persatuan : Satu roh, sehati, sejiwa (Filipi 2:2-7) satu hati,satu suara (Roma 15:5-6). Hidup rukun (Mzm 133:1-3) . Ada 3 hal yang membina persatuan :  Pertama, kasih (Ams 10:12 Yoh 3:16, 1 Kor 13) Kedua, . kendali (Ams 11:13, Im 19:16, Yak 3:5-6, Mzm 141:3). Ketiga, kebaikan,  (Ams 15: 4; 12: 18; 31: 26). Tetapi ada juga 4 hal yang menghancurkan persatuan: Pertama, fitnah (Ams 10: 8), Kedua, kemarahan (Ams 22:  24 – 25). Ketiga, kesombongan dan keangkuhan (Ams 13: 10, 16: 18 – 19). Keempat, cemburu dan iri hati (Ams 27: 4, Mat 27: 17).

  1. IX. MEDAN ATAU SASARAN YANG DIGEMBALAKAN

  1. Secara internal (GKPS): Kunjungan ke rumah-rumah warga jemaat, melayani dalam kebaktian-kebaktian  baik di gereja maupun di rumah. Ke Rumah Sakit, Lembaga Pemasyarakatan, dll.
  1. Secara Eksternal ( ke luar GKPS): Pelayanan dalam gerakan oikumenis, pelayanan kepada masyarakat yang belum mengenal Yesus Kristus.
  1. X. PENUTUP

Panggilan dan suruhan sebagai pelayan atau hamba Tuhan harus selalu mengingat, merenungkan bahkan melakukan:

  1. Datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani (Did not come to be served, but to serve (Mrk 10: 45)
  2. Upahku adalah bahwa aku boleh melayani  Tuhan sebagai hamba, partner kerja  di ladang Tuhan sebagai  penjala manusia  seperti Simon Petrus  (Lks 5: 10). .
  3. Sebagai hamba Tuhan, lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai. Karena itu, jangan tunggu esok atau lusa tetapi lakukanlah sekarang juga.
  4. Jadilah menjadi tim kerja pelayanan yang solid  bersama dengan majelis jemaat yang lain.
  5. Kasih adalah dasar yang paling utama dan pertama sebagai modal dalam pelayanan yakni kasih agave (Yoh 3: 16). Kasih agave itu kita jawab dengan menggembalan domba-domba Tuhan Yesus. (Yoh 21: 15 – 17).

STT Abdi Sabda Medan

Pdt. Jahenos Saragih

Catatan: Ceramah ini disampaikan dalam Pembinaan Syamas

Se GKPS Resort Medan Barat di GKPS Helvetia,

Jumat  28 Mei 2010.