KITA ADALAH MILIK TUHAN

“Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan.

Jadi baik hidup atau mati kiat adalah milik Tuhan”

( Roma 14 : 8 )

Salah satu penyebab manusia itu sombong dan angkuh karena ia lupa dari mana, sedang dimana, dan mau kemana arah kehidupannya. Dia menganggap bahwa segala sesuatu yang ada padanya (hidup, harta, masa depan) adalah miliknya sendiri, adalah karena usahanya sendiri. Akibatnya ia berkata dan berbuat sesuai dengan kehendak dirinya sendiri. Orang seperti ini sering kecewa dalam hidupnya karena segala sesuatu berpusat dari dan atas dirinya sendiri.

Saudara, jangan lupa bahwa kita adalah milik Tuhan, mutlak milik kepunyaan Tuhan baik hidup dan mati kita. Artinya tidak ada seorang manusia pun yang mengetahui kapan dia mati dan dimana dia mati. Dokter spesialis apa pun tidak dapat memastikan dan berkata bahwa umur pasiennya hanya 1 minggu, 2 bulan atau 1 tahun lagi. Karena persoalan hidup atau mati adalah persoalan Tuhan.

Sungguh betul apa yang dikatakan Firman Tuhan dalam Yakobus 4 : 13-16 agar jangan melupakan Tuhan dalam seluruh perencanaan dalam hidup kita. Hidup kita sama seperti uap yang hanya sementara kelihatan lalu lenyap. Karena itu dalam hidup yang sementara ini mari bermakna bagi oran lain di lingkungan kita. Hidup yang berkualitas adalah apabila hidupnya selalu digerakkan dan dikomando oleh pemilik hidup yang sejati yakni Tuhan kita Yesus Kristus. Semua yang kita miliki (termasuk hidup kita) hanya bersumber dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Hal ini berarti yang kita miliki hanya “Hak kelola”, hak pakai yang harus dipertanggung jawabkan kepada pemilik agung yaitu Tuhan kita. Artinya ada saatnya diminta dari kita pertanggung jawaban apakah kita sudah mengelola sesuai dengan kehendak Tuhan atau belum. Kalau masih belum, maka mulai sejak saat ini ketahui, imani dan lakukanlah sesuai dengan perintah sang pemilik agung Tuhan kita. Jika kita dapat mengelola dengan baik segala sesuatu miliki Tuhan yang dititipkan kepada kita maka kebahagian akan menjadi milik kita pada masa kini dan masa yang akan datang. Amin.

Doa : Ajarilah kami Tuhan agar kami selalu mengimani bahwa kami adalah milik Tuhan

dan bertanggung jawab kepada Tuhan. Amin.

Pdt. Jahenos Saragih

RAHASIA IBADAH

“Dan sesungguhya agunglah rahasia ibadah kita : “Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menempatkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan diantara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan”

( 1 Timotius 3 : 16 )

Rahasia adalah segala sesuatu yang sengaja disembunyikan supaya tidak diketahui orang lain, atau sesuatu yang belum dapat atau sukar diketahui dan dipahami orang atau sesuatu yang tersembunyi. Biasanya rahasia ini hanya diberitahu kepada orang-orang yang spesial dalam hidupnya. Karena itu timbulah rahasia pribadi, rahasia jabatan dan rahasia yang lain-lain. Hanya saja tidak semua orang dapat menjaga rahasia sehingga yang dirahasiakan kemudian menjadi rahasia umum. Kalau sudah rahasia umum, itu bukan lagi rahasia yang sesungguhnya.

Biasanya, kalau dikatakan rahasia semua orang punya kerinduan untuk mengetahui rahasia tersebut. Paulus memberitahukan rahasia ibadah yang sesungguhnya kepada Timotius anaknya secara rohani, sahabatnya dalam pelayanan. Inti dari rahasia ibadah kita adalah dari dan dalam diri dan hidup Yesus Kristus. Dia menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh, menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat diberitakan kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, dipercaya dalam dunia dan diangkat dalam kemuliaan.

Singkatnya, rahasia ibadah itu ada dalam karya keselamatan yang dibawa oleh Yesus Kristus untuk keselamatan bangsa di dunia. Rahasia itu telah nyata dan telah tersingkap sehingga tidak ada alasan lagi tidak mengetahui kunci rahasia keselamatan yang ditawarkan oleh Yesus Kristus. Hal yang lebih dalam lagi rahasia itu tidak hanya menjadi milik warga dunia, tetapi juga milik warga surgawi yakni para malaikat.

Kalau Yesus telah menjadi objek rahasia ibadah melalui kematian dan kebangkitan-Nya maka sebagai umat pilihan Tuhan mari kita berikan tubuh dan hidup kita menjadi persembahan kepada Tuhan dan itu adalah ibadah kita yang sejati. Pertanyaan kritis bagi kita adalah jangankan memberikan tubuh kita untuk persembahan yang hidup, memberikan waktu kita untuk saat teduh dan beribadah pada waktu tertentu pun kita masih malas dan mempunyai alasan-alasan yang dibuat-buat. Kalau relitanya seperti itu apakah kita masih dapat disebut sebagai anak-anak Allah. Marilah kita menjawab secara tulus sehingga rahasi ibadah menjadi nyata dalam hidup kita. Amin

Doa : Kiranya melalui rahasia ibadah ini Tuhan, kami menyadari siapa kami

Sesungguhnya. Amin

Pdt. Jahenos Saragih

KEDUDUKAN YANG BAIK

“Karena mereka yang melayani dengan baik beroleh kedudukan yang baik. Sehingga dalam iman kepada Kristus Yesus mereka dapat bersaksi dengan leluasa”.

( 1 Timotius 3 : 13 )

Semua orang berusaha secara maksimal untuk memperoleh kedudukan atau jabatan yang lebih baik. Waktu, daya dan dana, dan perasaan dikorbankan untuk menggapai kedudukan yang lebih baik itu. Realitas di lapangan sering terjadi, banyak yang menjual harta bendanya untuk menjadi pegawai negeri untuk menduduki jabatan tertentu, untuk menjadi anggota legislatif. Jumlah uang tidak tanggung-tanggung sesuai dengan posisi yang diinginkan. Boleh jumlahnya puluhan juta, ratusan juta bahkan sampai miliar. Untuk memperoleh jabatan/kedudukan tadi maka orang tidak segan-segan mempergunakan cara-cara yang tidak halal, malah bertentangan dengan nilai-nilai luhur agamanya masing-masing tidak jarang terjadi, kalau harapan dan cita-citanya tidak terwujud segala sesuatu sudah habis, maka banyak yang kecewa, stress, bahkan masuk Rumah Sakit Jiwa. Pada pihak yang lain kalau jabatan atau kedudukan sudah tercapai maka ia berusaha semaksimal mungkin untuk mengembalikan modal yang sudah ke luar. Dalam teori ekonomi berlaku dengan modal sekecil-kecilnya untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Tidak persoalan lagi baginya dengan cara apa pun dilakukan.

Saudara, dalam dunia kerohanian justru kebalikan realita yang terjadi dalam masyarakat. Kedudukan yang baik diperoleh apabila ia dapat melayani, bersaksi dengan leluasa. Paulus menasehati Timotius dan memberi kriteria, syarat-syarat sebagai diaken agar haruslah orang terhormat, jangan bercabang lidah, jangan penggemar anggur, jangan serakah, dst. Bahkan bagi orang yang telah memiliki kualitas iman yang dalam maka ia punya prinsip bahwa pelayan merupakan keharusan baginya, kedudukan yang terhormat baginya karena Yesus Kristus memberikan kesempatan baginya sebagai “partner kerja” dalam kerajaan-Nya. Pelayanan yang bukan mencari popularitas duniawi, bukan motivasi mencari uang tetapi “pelayan” yang melayani. Bahkan ada seorang missioner mengatakan “upahnya adalah apabila dia diberikan kesempatan untuk melayani”. Semangat dan motivasi yang seperti inilah yang Tuhan harapkan dari kita. Kedudukan yang baik pasti kita peroleh baik di bumi maupun di sorga jika kita melakukan perintah pelayan agung yakni Yesus Kristus. Amin

Doa : Ajari kami Tuhan agar kami dapat melayani dengan baik sesuai dengan

teladan-MU. Amin

Pdt. Jahenos Saragih

KASIH KARUNIA-NYA

“Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia yang dikaruniakan-Nya kepada kita didalam Dia, yang dikasihi-Nya”.

( Efesus 1 : 5-6 )

Saya pernah berdialog dengan seorang ibu pedagang kerang di kampung lalang  Medan. Ibu ini berumur 58 tahun dan sudah puluhan tahun sudah menekuni usahanya ini. Ia harus bangun pagi-pagi benar dan pulang ke rumah pada siang hari dan kadang-kadang pada sore hari. Kesempatan berdialog ini saya pergunakan sambil menunggu ibu yang sedang berbelanja. Saya kagum karena ketekunan dan doanya kepada Tuhannya  anak pertamanya sudah menikah dan sarjana. 2 orang lagi adiknya sedang kuliah di Perguruan Tinggi yang bergengsi di pulau Jawa satu diantaranya sedang penulisan skripsi dan satu lagi kuliah pada semester 5. Sungguh luar biasa pengorbanan orang tua ini demi kecerahan masa depan anak-anaknya.

Firman Tuhan melaluin surat Paulus kepada jemaat di Efesus pada saat itu dan pada kita pada masa kini mengingatkan bahwa kasih karunia dan rahmat Allah jauh melebihi pengorbanan seorang ibu kepada anak-anaknya di pasar Kampung Lalang di atas.

Kasih yang sudah ditentukan sejak semula oleh Yesus Kristus sehingga kita menjadi anak-anakNya. Pengorbanan yang luar biasa yakni memberikan tubuh dan nyawa-Nya. Ia relakan dan korbankan demi dan untuk kita.

Persoalan bagi kita sekarang adalah apakah kita mengingat dan menghargai kasih karunia dan rahmat-Nya yang begitu besar terhadap dunia dan kita?. Apakah para mahasiswa mengingat dan menghargai jerih lelah dan jerih juang orang tuanya di kampung siang dan malam berusaha agar kebutuhan bulanan anak-anak yang dikasihi tidak terhalang. Bahkan saya tahu ada beberapa orang tua mahasiswa gali lobang tutup lobang bahkan lobangnya belum ditutup sudah menambah lobang-lobang yang lain lagi. Sehingga daripada pusing kepala banyak orang tua menjual harta bendanya baik yang tidak bergerak maupun barang bergerak. Luar biasa bukan pengabdian orang tua tersebut. Kalau anak-anaknya kelak berhasil maka jerih lelah orang tua tidak terasa, tetapi kalau anak-anaknya gagal, maka bertambahlah beban, duka orang tuanya.

Karena itu jangan sia-siakan pengorbanan orang tua yang begitu besar dan juga jangan sia-siakan kasih karunia dan rahmat Tuhan yang sudah diterima dan akan diterima sehingga nanti Tuhan semakin dimuliakan. Kasih yang baik dan sempurna apabila kita tidak bertepuk sebelah tangan. Amin.

Doa : Kiranya kasih karunia Tuhan selalu kami respon dengan melayani Tuhan dan

orang lain. Amin.

Pdt. Jahenos Saragih

MEMULIAKAN TUHAN

“Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juru Selamatku,

Sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hambaNya”

( Lukas 1:46b-48a )

Memberikan pujian kepada orang lain disebabkan kita sudah merasakan apa yang sudah dia lakukan kepada kita secara nyata. Sehingga jiwa dan hati kita penuh dengan ucapan syukur. Apalagi yang memberikan perhatian, empati, dan simpati ini kedudukannya jauh lebih tinngi dari kedudukan kita. Sampai kapan pun tidak mungkin kita lupakan.

Ayat di atas adalah bagian dari nyanyian pujian Maria ketika dia dipilih Tuhan diantara semua wanita di dunia sebagai ibu Yesus Juruselamat dunia. Walaupun dari segi adat-istiadat di tengah-tengah masyarakat peristiwa ini merupakan aib, karena pada saat itu hamil tanpa suami yang resmi. Tetapi Maria memilih skala prioritas untuk melaksanakan kehendak Tuhan.

Maria tidak hanya fisiknya yang bergembira dan bersukacita tetapi ikut jiwanya memuliakan Tuhan dan hatinya bergembira karena Allah Juruselamatnya. Maria menyadari dia adalah hamba yang rendah tetapi Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi memperhatikan dan mempertimbangkannya.

Memuliakan Tuhan adalah hakikat orang percaya. Memuliakan tidak hanya melalui bibir dan mulutnya tetapi melalui jiwa dan hatinya. Artinya seluruh eksistensi hidupnya harus memuji dan memuliakan Tuhan. Mensyukuri apa yang Tuhan telah berikan kepada kita, apakah itu umur, jabatan, pekerjaan, keberhasilan, bahkan kegagalan pun harus sanggup mengucap syukur. Mengucap syukur dan memuliakan Tuhan dalam segala hal itu yang dikehendaki Tuhan.

Teladan Maria yang memprioritaskan kehendak Tuhan daripada kehendaknya sendiri mengakibatkan pengaruh yang sangat luar biasa bagi keselamatan umat manusia dan dunia. Sungguh benar Firman Tuhan dalam Mat. 6:33 yang mengatakan “Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”. Komitmen dan teladan Maria ini juga merupakan komitmen dan teladan bagi kita sekarang dan pada masa yang akan datang. Jadilah menjadi berkat bagi linggkungannya. Amin.

Doa : Kiranya teladan Maria untuk memuji dan memuliakan Tuhan merupakan komitmen kami bersama. Amin.

Pdt. Jahenos Saragih

MENYERAHKAN NYAWA-NYA

“Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita;

Jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita”
( 1 Yohanes 3:16 )

Pengorbanan yang paling tinggi dalam hidup ini yaitu apabila ia berkenan memberikan nyawanya untuk orang lain dan untuk bangsanya. Hal ini mengingatkan kita di Indonesia, ada satu hari yang selalu diperingati sebagai hari pahlawan (10 November). Hanya anehnya sebagai bangsa yang religius kita sering lupa dan kurang menghargai pengorbanan mereka yang mati demi memperjuangkan kemerdekaan. Kita kurang memberikan perhatian yang serius bagi keturunan atau generasi berikutnya dari pahlawan kita. Ini namanya lupa kacang akan kulitnya. Malah boleh saya katakan bahwa bangsa yang tidak menghormati pahlawannya adalah bangsa yang belum bertobat

Sesuai dengan kalender gerejani hari ini masih dalam suasana passion, Jumat Agung memperingati tentang puncak penderitaan Tuhan Yesus yang menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib untuk menebus orang berdosa. Esok hari kita baru merayakan Paskah yakni hari kebangkitan Tuhan Yesus dari kuasa dosa dan maut. Kalau Yesus berkenan memberikan nyawa-Nya untuk saudara dan saya maka sungguh adil bukan kalau kita juga berkenan memberikan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. Hal ini berarti tidak bertepuk sebelah tangan. Dalam ayat ini malah dipakai kata “wajib” menyerahkan nyawa untuk saudara-saudara kita. Tugas dan tanggung jawab ini sangat berarti bagi orang-orang yang belum mempunyai kualitas iman yang tangguh.

Mengikut Yesus berarti menyangkal diri dan memikul salib. Wajib menyerahkan nyawa dalam arti luas adalah memberikan apa yang diperintahkan Yesus kepada kita. Nilai-nilai kesetiaan dibutuhkan dari kita. Setia dalam kata dan perbuatan. Tak ada yang perlu yang ditakutkan dalam penyerahan nyawa ini karena mati dan hidup juga masa depan kita sudah di tangan Yesus. Amin.

Doa : Tolong kami Tuhan agar dapat mengimani karya penyelamatan-Mu di kayu salib untuk keselamatan kami. Amin.

Pdt. Jahenos Saragih

DILAHIRKAN KEMBALI

“Karena kamukarena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana,

tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal”

( 1 Petrus 1:23 )

Kita sudah sering mendengar istilah dilahirkan kembali atau sering kita dengar juga dengan istilah lahir baru. Pemikiran dilahirkan kembali diawali percakapan Yesus dengan Nikodemus seorang Farisi pemimpin agama Yahudi (Bd Yohanes3). Nikodemus paradigma berpikirnya masih memikirkan tentang kerajaan Allah dari segi kalkulasi matematika dunia. Hal ini kelihatan dari jawabnya yang mengatakan “Bagaimana mungkin seseorang dilahirkan kalau dia sudah tua dan masuk kembali ke rahim ibunya”. Akhirnya Yesus mengajarkan dari perspektif teologis yakni dilahirkan dari Roh menggambarkan tentang angin bertiup ke mana dia mau dan engkau mendengar bunyinya tetapi tidak tahu dari mana datang dan ke mana perginya. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.

Petrus sebagai murid Yesus mengulangi istilah dilahirkan kembali ini kepada jemaat  di diaspora yakni di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia. Dengan penderitaan yang sedang mereka alami maka mereka diharapkan dan diingatkan agar mereka statusnya tetap lahir kembali. Dilahirkan kembali dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana yakni oleh Firman Allh yang hidup dan yang kekal. Artinya semangat “telah dilahirkan kembali” dalam menyelesaikan semua aneka pergumulan hidup dapat sukses karena pertolongan kasih Tuhan.

Firman Allah yang hidup dan kekal itu selalu memberikan jaminan penyelamatan dan semangat yang baru bagi umat-Nya. Jadi tepat apa yang dikatakan Paulus dalam surat 2 Korintus 5:17 “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datng.” Mari terus berjuang agar tetap lahir kembali dalam Firman Allah yang hidup dan yang kekal.Amin.

Doa        : Tuhan tolong kami agar selalu lahir kembali dari benih yang tidak fana oleh firman-Mu yang hidup.Amin.

Pdt. Jahenos Saragih

BERBAHAGIALAH

“Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya dan ditutupi dosa-dosanya”]

( Roma 4:7 )

Kebahagiaan seorang terdakwa kelas kakap di meja pengadilan apabila ada grasi dari President atau Kepala Negara yang mengatakan bahwa pelanggaran dan kesalahannya telah diampuni. Bagi terdakwa tersebut tidak akan pernah melupakan peristiwa kebahagiaan tersebut malah peristiwa ini diceritakan kepada generasi berikutnya. Hal ini masih dari seorang Kepala Negara kita sudah senang dan berbahagia. Tidakkah jauh lebih besar dan lebih berkuasa kebahagiaan kita apa bila Tuhan Yesus Kristus yang Allah dan Juru Selamat dunia mengampuni semua pelanggaran dan dosa-dosa kita?

Sebelumnya kita sudah menjadi penghuni neraka karena pelanggaran dan dosa-dosa kita tetapi sekarang kita diampuni dan pindah menjadi penghuni sorga. Kita dibenarkan bukan karena kebaikan kita tetapi dari kasih karunia Allah sehingga tidak ada seorang pun yang menyombongkan diri. Hal ini juga disampaikan Paulus ke jemaat Roma pada saat itu. Persoalan bagi kita sekarang adalah kalau Yesus sudah mengampuni pelanggaran-pelanggaran dan menutupi dosa-dosa kita, kenapa kita tidak mau mengampuni dan menutupi dosa dan kesalahan orang lain ? Tidakkah setiap mengucapkan doa yang diajarkan Tuhan Yesus yakni Doa Bapa Kami, ada kalimat “Ampunilah kami seperti kami juga mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kami”. Apakah kalimat ini berlalu tanpa memberi makna ? Tidakkah kita setiap tahun beberapa kali menerima Perjamuan Kudus dan telah menerima pengampunan dosa tetapi kita tidak mau mengampuni orang lain, kalau ini yang terjadi maka kita introspeksi diri, manusia apakah kita ini sesungguhnya ? Karena itu berbahagialah karena pelanggaran dan dosa-dosa kita telah diampuni Yesus dan janganlah berbuat dosa lagi agar hidupmu senang dan tenang. Amin.

Doa        : Ajari kami Tuhan agar kami mau mengampuni pelanggara-pelanggaran dan dosa-dosa saudara-saudara kami agar hidup kami berbahagia. Amin.

Pdt. Jahenos Saragih