GKPS BUTUH PERUBAHAN

DAN PEMBAHARUAN

I. Problematika

Paradigma berpikir yang statis dan apatis yang mengatakan “na somal-somal in ma gelah” sudah saatnya kita tinggalkan dan tanggalkan, kita berpikir dinamis dan konstruktif kalau kita mau maju dan berubah ke arah yang lebih baik. Paradigma berpikir yang mengatakan juga “nasiam-nasiam in ma lobei, hanami on parpudi ma gelah” sudah satnya juga kita obah  dan idealnya kita mengatakan mari bersama-sama bergerak  mewujudnyatakan  semua program yang membangun Simalungun dan GKPS. Mari bersama-sama  memberikan tekad dan komitmen  agar rasa ahapscience of belonging” dan bukan rasa “tarahap” karena diberikan se lembar uang  limapuluh ribuan atau  ratus ribuan kepada kita. Sehingga falsafah orang Simalungun “habonaron do bona” menjadi kabur dan samar  karena  kepentingan sesaat yang tarahap tadi.Lembar puluh ribu atau ratusan bahkan jutaankah nilai kita  dihadapan orang lain?

Familiisme, margaisme, alumniisme daerahisme atau koncoisme dan isme-isme yang  lainkah berlaku bila terjadi periodisasi atau pengambilan keputusan untuk posisi tertentu sehingga kita  begitu gesit  ke sana ke mari menancapkan pengaruh bahkan ada yang “black campaign dan money politicks” untuk kepentingan sesaat tadi dan bukan untuk kepentingan  dan masa depan GKPS atau Simalungun. Motto “sapangambei manoktok hitei” yakni rasa kebersamaan  berat sama dipikul, ringan saa dijinjing harus menjadi bagian keseharian kita. Mampukah GKPS  dalam tri tugas hakiki gereja (bersekutu, beraksi dan melayani) mengalami perubahan dan pembaharuan  ke arah yang lebih baik sehingga  GKPS tidak hanya dihitung tetapi diperhitungkan, tidak hanya dipengaruhi tetapi mampu mempengaruhi dalam skop lokal, regional, nasional bahkan internasional? Hal inilah yang perlu kita diskusikan  bersama, kalau kita masih peduli terhadap masa depan GKPS dan Simalungun, sehingga kita dapat mengejar ketertinggalan kita jika dibandingkan dengan gereja-gereja atau suku-suku yang lain di Indonesia.

II. GKPS  dalam  Tritugas hakikinya

GKPS yang pada bulan September ini sudah  genap umurnya 107 tahun dalam menjalankan persekutuan, kesaksian dan pelayanannya. Penilaian secara objektif sudah banyak yang dilakukan, tetapi harus diakui juga masih banyak yang belum dilakukan . Laporan Pertanggungjawaban Pimpinan Pusat  yang didasari Laporan Pertanggungjawaban dari seluruh Jemaat  dan Resort se-GKPS dalam Synode Bolon ke Synode Bolon begitu-begitu saja. Lihat dan saksikan saja  jumlah persentasi kehadiran dalam persekutuan (ke gereja, partonggoan, sermon, sakramen, pesta ucapan syukur, persekutuan kategorial, misalnya Sekolah Minggu/remaja, Pemuda, Wanita dan Bapak masih sangat memprihatinkan. Istilah “siparayakon ma ai” tetap berkumandang dalam mengatasi solusi yang ada baik di tingkat Jemaat, Resort bahkan tingkat Pusat. Menurut analisis saya kita belum maksimal memakai pisau analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, treat) yakni dimana kekuatan, kelemahan, kesempatan dan ancaman  belum maksimal kita kaji secara mendalam.

Dalam rapat, sidang atau synode kita lebih  banyak menghabiskan waktu  dan tenaga  membicarakan tentang keuangan, dogmatis dan aturan-aturan organisasi daripada membicarakan  bagaimana solusi  peningkatan pelayanan di jemaat atau resort kita masing-masing yang waktunya sangat minim sekali. Justu saya pikir waktu membicarakan tentang pelayanan inilah kita memberikan waktu dan tenaga lebih banyak. Misalnya bagaimana  pelayanan kita lebih maksimal  kepada Sekolah Minggu/remaja kita,  karena mereka  inilah generasi penerus gereja, bangsa dan Negara .Bagaimana pelayanan kita kepada  warga   miskin, pengangguran dan masalah-masalah sosial  lainnya. Bagaimana  partisipasi kita dalam gerakan oikumenis secara lokal, regional,nasional bahkan internasional.

Dalam bidang kesaksian, misalnya bersaksi, memberitakan injil, penggembalaan, peningkatan, kemampuan berteologi masih belum kita garap secara maksimal. Kita  lihat di lapangan  berapa kali dalam satu tahun pembinaan kita kepada majelis jemaat, warga jemaat apalagi  kepada mereka yang baru diangkat menjadi syamas, pengurus seksi atau Pimpinan Majelis Jemaat. Masih sangat minim bukan? Dalam bidang pelayanan misalnya melayani ciptaan Tuhan, sosial budaya, partisipasi dalam pembangunan  masih belum kita laksanakan dengan baik.Kita boleh bangga dalam artian positif akhir-akhir ini  sudah mulai bangkit  kesadaran  akan identitas sebagai orang Simalungun, baik melalui bahasanya, adat-istiadat, pakaiannya, budayanya dan juga karya-karya lagu-lagu Simalungun. Hal ini  tidak terlepas dari perhatian tokoh-tokoh Simalungun dalam berbagai bidang dan  komunikai melalui media cetak  dan elektronika yang semakin meningkat. Kita berharap GKPS mengulangi sejarahnya yang cemerlang di mana pada saat itu mendapat penghargaan Kalpataru dari Pemerintah melalui Pelpemnya.

III. GKPS dalam Bidang SDM, Dana, Sarana dan Prasarana.

Kita boleh bangga dalam arti yang positif, karena berkat Tuhan maka SDM GKPS dan Simalungun sudah lebih berkembang dengan baik pada akhir-akhir ini. SDM dalam berbagai aspek disiplin ilmu, baik di bidang  teologi, hukum, ekonomi, sosial, kesehatan dan bidang-bidang lainnya. Kalau didata dengan baik saya yakin sudah ribuan sarjana kita baik yang bergelar S1, S2, dan S3 bahkan sudah puluhan saya kira yang menjadi guru besar atau professor. Hal ini kalau “dimanage” dengan baik akan menjadi kekuatan yang besar di GKPS dan Simalungun. Litbang GKPS-lah idealnya menginventarisasi dan menghimpun kekuatan ini sehingga mampu kelak memdirikan “Universitas August Thais” yang sudah pernah dibicarakan dalam Synode Bolon GKPS. Litbang harus diberdayakan semaksimal mungkin sehingga pelesetan singkatan Litbang selama ini (sulit berkembang) tidak perlu dikembangkan lagi.

Berbicara tentang dana saya pikir adalah soal kedua. Kalau kita sudah merasa memiliki (science of belonging) terhadap GKPS dan Simalungun ini, maka soal dana sangat gampang. Mari duduk bersama, berbicara bersama, satukan visi dan misi kita dan pilih pemimpin yang kredibel, punya integritas dan tidak diragukan spritualnya, maka segala program dan rencana kita pasti berhasil yang tentunya di dalam kuasa Tuhan. Pemimpin ideal yang diharapkan dapat menghimpun segala kekuatan dan elemen yang ada dan berfikir visioner dan misioner bukan yang berfikir sempit dan dangkal yang memikirkan dirinya, kelompoknya dan dengan kepentingan sesaat.

Tokoh pemimpin GKPS dan Simalungun seperti Pdt. J. Wismar Saragih dan tokoh pemimpin internasional Nelson Mandela di Afrika Selatan dan Mahatma Gandhi di India boleh menjadi inspirasi bagi kita. Sebagai orang Kristen tentunya kita meneladani banyak tokoh-tokoh Alkitab termasuk Kepala Gereja yakni Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan, Raja dan Juruselamat dunia. Kita bingung kalau realitas yang kita alami di GKPS yang mengumpulkan Dana Kesejahteraan Pensiun (DKP) petugas penuh waktu sudah dua periode kepemimpinan tetapi mengumpulkan dana 5 M saja merasa kesulitan. Hal ini disebabkan berbagai faktor. Sementara ada beberapa keluarga warga GKPS mampu membangun Balai Bolon  GKPS, Rumah Sakit pribadi, Sekolah dan Perguruan Tinggi bahkan memiliki kemampuan menjadi pengusaha yang berhasil. Persoalan sekarang adalah apakah para pemimpin GKPS dengan wibawa, otoritas dari Tuhan mampu menggerakan seluruh kekuatan dana dan SDM yang dimiliki oleh warga GKPS dan Simalungun ? Saya yakin warga GKPS dan Simalungun adalah warga yang telah diberkati Tuhan.

IV. GKPS dengan Perangkat Pelayanannya

Dalam hal ini kita berbicara tentang pendidikan, kesehatan, Pelpem, Juma Bolak, Panti Karya Remaja yang pada saat ini sudah dimasukan ke dalam Biro Usaha GKPS. Dalam Synode Bolon GKPS ke-36 tahun 2000 di Pematang Siantar dilaporkan tentang Yayasan Pendidikan GKPS di mana ada beberapa sekolah yang tidak dapat dipertahankan lagi dan terpaksa ditutup yakni SMP GKPS Batu VI Pematang Siantar, SMP/SMU GKPS Seribu Dolok, SMU GKPS Sindar Raya. Timbul pertanyaan, sekolah mana lagi yang akan ditutup setelah 10 tahun ini ? Kita berharap Synode Bolon GKPS membicarakan hal ini dan mencari solusi yang terbaik agar sekolah ini dikelola secara professional dan proporsional sama seperti sekolah Katolik, Methodist, Penabur dan sekolah lain yang lebih maju. Kita juga berharap agar Biro Usaha GKPS dapat memberikan kontribusi untuk GKPS dan bukan menjadi beban keuangan umum GKPS. Mari revitalisasi semua aset-aset GKPS agar menjadi berkat bagi GKPS dan bukan menjadi sumber konflik, malapetaka bahkan perseteruan yang berkepanjangan.

V. GKPS dalam Pembangunan Fisik dan Spiritualnya

Sesuai dengan pengamatan saya sekitar 26 tahun di GKPS paradigma berpikir kita masih mengutamakan pembangunan fisik gereja dari pada pembangunan spiritualnya. Bukan maksud saya tidak perlu pembangunan fisik, tetapi perlu juga, karena tidak mungkin kita beribadah dengan nyaman dan tenang dalam bangunan sempit dan panas. Malah bagi jemaat yang di kota sudah banyak yang memakai full AC. Tetapi marilah secara bijaksana bahwa skala prioritas kita lebih fokus ke pada pembangunan spiritualnya. Kita boleh belajar dari pengalaman gereja-gereja di Eropa  dimana  bangunan gereja yang besar dan mewah tetapi  yang beribadah hanya warga jemaat lansia dan akhirnya gereja dijual dan fungsinya diubah kepada hal-hal yang lain. Saudara gereja kita di Kharismatik yang hanya beribadah di rumah-rumah, ruko, mall, hotel dan tempat-tempat lain tetapi pembangunan spiritual mereka lebih baik dari kita dalam hal memberikan persepuluhan, menolong orang lain mereka lebih peduli

VI. GKPS  Dengan Politik Praktisnya

Menurut saya sangatlah tidak etis kalau para pemimpin  di  gereja  terjun dalam dunia politik praktis,   yang ikut-ikutan memberikan statement di media cetak dengan  mendukung  orang-orang tertentu atau partai tertentu dalam Pilkada  atau anggota legislatif. Apalagi dirinya berniat menjadi anggota legislatif atau menjadi Kepala Daerah.  Dukung mendukung seperti ini  dapat menjadikan lembaga gereja itu ke luar dari ranahnya yang sakral, yang rohani ke arah yang sekuler dan  duniawi. Kalau sudah seperti ini, hanya satu pertanyaan kritis Quo Vadis hamba-hamba Tuhan.Ada apa lagi yang dicari ? Kebutuhan atau kepentingan duniawi atau kepentingan sorgawi? Tidakkah lebih bijaksana kalau  para hamba-hamba Tuhan  atau pimpinan gereja  “memboboti” majelis dan warga jemaatnya  dalam berbagai posisi atau jabatan ditengah-tengah masyarakat termasuk menjadi walikota atau bupati atau anggota legislatif, sehingga mereka dapat menjadi “garam dan terang dunia” dalam tugas dan tanggungjawab yang diembannya kelak?. Apakah sudah jaminan juga bila  ia tampil sebagai  kepala daerah atau anggota legislatif  sudah otomatis menjadi berkat bagi masyarakat atau malah menjadi batu sandungan  dan kutuk?.

Peranan yang dimainkan oleh Pemimpin Gereja adalah “mendoakan” calon-calon pemimpin dan warga jemaat. Kita mengimani  otoritas doa sangat besar bila dengan yakin didoakan (Yak 5: 16). Warga jemaat atau masyarakat sudah cerdas dan bijaksana  menggunakan  dan memilih pemimpinnya sesuai dengan hati nuraninya. Gereja harus bersikap positif, kreatif, kritis dan konstruktif sehingga proses pemilihan  berjalan dengan adil, jujur  dan transparan sehingga hasilnya dapat diterima  secara dewasa. Dalam dunia politik berlaku istilah “tidak ada kawan atau lawan yang abadi tetapi yang adalah kepentingan yang abadi.Tetapi Alkitab mengajarkan “Ya katakan  bila ya dan tidak bila tidak “ (Mat 5: 37). Yesus juga  tegas mengingatkan:” …Berikanlah kepada kaisar apa  yang wajib kamu berikan kepada kaisar dan kepada Allah apa  yang wajib kamu berikan  kepada Allah” (Mat 22: 21). Rasul Paulus juga mengatakan, “ Hai kamu orang yang tidak setia….persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah.Jadi barang siapa  hendak  menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah”. (Yak 4: 4). Saya salut melihat sikap tegas pemimpin Nahdatul Ulama (NU) organisasi Islam terbesar di Indonesia yang sampai saat ini tidak pernah menyatakan dukungan politik kepada calon  walikota, karena tidak diizinkan secara organisasi.Tidak pernah membuat statemen mendukung salah satu calon.Sebagai lembaga keagamaan , mereka nentral , tidak terlibat  politik praktis. Secara moral mereka mendorong masyarakat  menggunkan hak pilihnya. Mereka (NU) tegas memegang Khitah NU tahun 1926. Saya pikir hal ini merupakan pelajaran bagi para pemimpin gereja  dan kalau boleh diputuskan dalam Sinode Bolon GKPS agar mempunyai kekuatan hukum untuk tidak terlibat dalam kegiatan politik praktis.

VII. Lalu, apa yang kita lakukan?

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa  cukup banyak problematika atau permasalahan  yang sudah, sedang dan akan kita alami yang perlu  didiskusikan bersama baik tentang GKPS  dalam tritugas hakikatnya, dalam bidang SDM, sarana dan prasarana, dengan perangkat pelayanannya, dalam pembangunan fisik dan spiritualnya, dalam politik praktisnya bahkan yang belum sempat dibahas yakni dalam bentuk manajemennya dan strukturalnya. Aneka ragam  pergumulan di atas  membutuhkan waktu yang panjang serta pemikiran yang cerdas dan bijaksana  agar GKPS butuh perubahan dan pembaharuan yang signifikan  ke arah yang lebih baik untuk masa  depan.

Hal utama dan pertama  dan menjadi skala prioritas  adalah bagaimana  agar semua warga GKPS  baik majelisnya maupun warganya  merasa memiliki (science of belonging)  dalam perjalanan GKPS ini  sehingga visi dan misinya dapat terrealisir pada masa yang akan datang, sehingga istilah “na somal-somal in ma gelah, nansiam-nasiam in ma parlobei hanami on parpudi ma gelah”  tidak lagi menjadi bagian keseharian kita, tetapi mari duduk bersama  semua elemen warga GKPS dan di luar GKPS  bahu membahu “sapangambei manoktok hitei dan habonaron do bona” menjadi falsafah dan motto  yang diterangi oleh injil Kristus. Akhirnya GKPS  dapat menjadi berkat bagi dunia dan  lingkungannya  dalam segala aspek pelayanannya, sehingga GKPS tidak hanya dihiting tetapi diperhitungkan, tidak hanya dipengaruhi tetapi mampu mempengaruhi lingkungannya  sehingga dapat menjadi garam dan terang dunia.  Selamat bersynode GKPS yang ke-40. Tuhan Yesus memberkati.

Medan, Medio Juni 2010

STT Abdi Sabda Medan

Pdt. Jahenos Saragih, M.Th, MM