DIALOG KEBANGSAAN

Bagaimana Gereja Menyikapi Isu-isu Kebangsaan

Oleh : Pdt. Jahenos Saragih, M.Th, MM.

  1. I. PROBLEMATIKA

Krisis multidimensional yang dialami oleh bangsa Indonesia pada saat ini dari aspek etis-teologis sebagai pertanda “gagalnya” pembinaan spiritual yang dilakukan oleh semua tokoh-tokoh agama di Indonesia. Karena sebagai warga negara yang baik, mulai dari Presiden sampai kepada Kepala Desa atau dari tingkat pusat sampai ke daerah-daerah semua mengaku mempunyai agama sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya masing-masing.

Krisis multidimensional menyangkut masalah : Kerukunan umat beragama, korupsi, mafia hukum (Markus), desintegrasi, lingkungan hidup (Ekologi), kepemimpinan (Pilkada), politisasi agama, kemiskinan, narkoba HIV-AIDS, periodisasi, dll. Persoalannya sekarang adalah sejauh mana elemen bangsa ini, khususnya semua tokoh-tokoh agama, pemimpin di lembaga eksekutif, yudikatif, dan legislatif masih merasa memiliki  (science of belonging) terhadap pejalanan dan keutuhan bangsa Indonesia atau sudah lebih cenderung mementingkan kepentingan pribadi, kelompok, golongan atau agama masing-masing. Kalau hal ini yang terjadi maka “Kapal Besar” bangsa Indonesia tinggal menunggu waktu tenggelam ke dasar lautan yang dalam. Cita-cita dan harapan pendiri bangsa untuk mencapai masyarakat adil dan makmur hanya tinggal kenangan dan impian.

Perlu dicatat dan diingat bahwa negara kita bukan negara agama atau negara sekuler tetapi negara hukum. Hal ini berarti bahwa hukum merupakan panglima tertinggi di negeri ini untuk menyelesaikan krisis yang bernuansa hukum dan keadilan. Tetapi tidakkah sebahagian realitas yang terjadi di lapangan adalah “Hukum Rimba”? Orang yang punya uang dan kekusaan itulah yang menang bahkan hukum bagi sebahagian orang dapat diatur sesuai dengan kepentingan yang memesannya.

Karena itu dalam rangka kegiatan Paskah dan Seminar Gereja se-Kabupaten Langkat tahun 2010 ini merupakan suatu momentum untuk mengkaji ulang tuntutan Thema : Kemenangan dalam kebangkitan Kristus (Yohanes 11:25) dan Sub-Thema : Kuasa kebangkitan Yesus Kristus memampukan kita menjadi berkat bagi bangsa Indonesia. Sekaligus bagaimana gereja menyikapi masalah internal dan eksternal dan menyikapi isu-isu kebangsaan dalam bentuk dialog kebangsaan.

II        ISU-ISU KEBANGSAAN

Sebenarnya cukup banyak isu-isu kebangsaan yang harus disikapi secara arif bijaksana dari persfektif etis-teologis kristiani, sehingga tuntutan Sub-Thema Paskah “Menjadi berkat” bagi bangsa Indonesia dapat menjadi kenyataan. Tetapi pada kesempatan ini, cukup beberapa hal yang perlu didialogkan menyikapi isu-isu tersebut, antara lain :

  1. Kerukunan umat beragama (Pendirian Rumah Ibadah)
  2. Korupsi
  3. Mafia Hukum, Makelar Kasus
  4. Desintegrasi Bangsa
  5. Lingkungan Hidup (Ekologi)
  6. Kepemimpinan (Pilkada)
  7. Politisasi Agama
  8. Kemiskinan
  9. Narkoba, HIV, AIDS

10.  Periodisasi, dll

  1. III. DIALOG KEBANGSAAN

Dialog merupakan salah satu solusi yang ditawarkan untuk mencari solusi. Pergumulan bangsa Indonesia menurut pengamatan saya adalah krisis multidimensional. Dialog masih dalam tahap bentuk seminar, simposium tingkat atas, elite. Dialog juga masih dalam tahap konsep, dogma, teori di atas kertas dan ruang seminar, belum masuk dan menyentuh kelas bawah dan dalam tahap praksis tindakan nyata. Idealnya dialog dalam bentuk seminar, simposium atau dalam bentuk apapun harus diwujud nyatakan dalam bentuk tindakan nyata. Dalam dialog harus duduk bersama memberikan butir-butir pemikiran yang jernih dan bijaksana sesuai dengan disiplin ilmu yang dimiliki. Melihat krisis dari berbagai perspektif dan mencari solusi yang dapat dirasakan dan dinikmati semua elemen bangsa termasuk kepentingan rakyat kecil atau orang-orang marjinal

  1. IV. SOLUSI YANG DITAWARKAN

Peran, fungsi tokoh-tokoh agama di Indonesia sangat menentukan cerah suramnya perjalanan dan masa depan bangsa Indonesia. Mereka harus memainkan perannya sebagai perekat dan pemersatu dan mampu sebagai garam dan terang sebagaimana diamanatkan Yesus dalam Matius 5:3-16. Menggarami dan menerangi isu-isu kebangsaan seperti yang disebutkan di atas. Kalau peran dan fungsi ini tidak dilakukan maka krisis yang lebih parah akan menimpa bangsa Indonesia.

  1. V. PRINSIP DAN SIKAP DASAR YANG DITAWARKAN

  1. Takut akan Tuhan (Amsal 1:7)
  2. Tegas dan berani (Matius 5:37)
  3. Tidak eksklusif tetapi inklusif   (Yohanes 3:16)
  4. Tidak materialistis (1 Tim 6:10)
  5. Menjadi berkat bagi dunia (Kejadian 12:1-3)
  6. Mengasihi Allah dan sesama manusia (Matius 22:37-39)
  7. Melayani bukan dilayani (Markus 10:45)
  8. Kesatuan dalam kepelbagaian (Yohanes 17:21)

*Ceramah ini disampaikan dalam Seminar gereja

se Kabupaten Langkat, sabtu 15 Mei 2010

STT Abdi Sabda Medan