Cahaya Kemuliaan Allah

Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang

Segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan.

Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan

Yang Maha Besar, di tempat yang tinggi

(Ibrani 1:3)

Sesuai dengan tahun gerejawi masih segar dalam ingatan kita, karena masih satu hari gereja-gereja di seluruh dunia telah memperingati hari kenaikan Tuhan kita Yesus Kristus ke sorga. Kenaikan-Nya ke surga memberikan jaminan bagi kita, bahwa Dia telah mempersiapkan tempat bagi kita dalam kehidupan yang kekal. Dengan kenaikan-Nya, cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah yang penuh kuasa telah dinyatakan dalam firman-Nya baik dalam PL maupun PB

Sebelum kenaikan-Nya, Dia telah menjalankan misi-Nya dan puncaknya adalah karya penyelamatan melalui peristiwa kayu salib, mati dan bangkit kembali. Setelah beberapa hari menampakan diri, maka Ia naik ke sorga dan duduk di sebelah kanan Yang Maha Besar di tempat yang maha tinggi. Dalam konteks Ibrani Ia tampil sebagai Imam Besar yang mempersembahkan seluruh eksinstensi hidupnya demi untuk keselamatan dunia.

Yesus adalah cahaya kemuliaan Allah yang penuh kekuasaan, kekuasaan-Nya melampaui segala batas tempat dan waktu, melingkupi bumi dan sorga, kekal untuk selama-lamanya. Kekuasaan-Nya menyangkut soal hidup dan mati. Kalau demikian, mari kta selalu berada dalam lingkaran kekuasaan-Nya.

Persoalan bagi kita sekarang adalah sejauh mana pancaran cahaya kemuliaan Allah dapat kita pantulkan kepada lingkungan kita, sehingga kita dan lingkungannya dapat bersinar dan bersinar. Pantulan cahaya kemuliaan yang tidak pernah redup ditelan masa dan zaman yang berubah-ubah.

Kalau Tuhan kita Yesus Kristus sudah mempersiapkan tempat bagi kita di surga, apakah kita kelak masuk ke tempat yang sudah dipersiapkan itu atau jusrru berada di luar atau bahkan di negara ? Harapan dan doa kita agar satupun tidak ada diantara kita yang tidak duduk dan makan bersama dalam jamuan kasih yang telah Tuhan persiapkan.

Doa : Kiranya cahaya kemuliaan-Mu Tuhan, selalu bersinar dengan firman yang penuh kekuasaan dan kami memperoleh keselamatan dalam kerajaan-Mu kelak. Amin.

Pdt. Jahenos Saragih


Mengandalkan Tuhan

Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN,

yang menaruh harapannya pada Tuhan

(Yeremia 17:7)

Tidak sedikit jumlahnya diantara kita dalam hidup ini lebih sering mengandalkan hartanya, uangnya, jabatannya, kekuasaannya, ilmunya, familynya, bahkan anaknya yang sudah berhasil. Orang seperti ini secara umum membuat dia sombong, angkuh, karena menurut dia segala sesuatu adalah karena usaha, kepintaran dirinya sendiri. Apabila terjadi sesuatu hal pada hidupnya, misalnya hartanya, uangnya dirampok orang lain, jabatan atau kursinya dicopot, family atau anaknya meninggal maka habislah sudah hidup dan masa depannya.dengan kata lain orang yang mengandalkan “Dunia” ini pasti kecewa dan tamatlah riwayatnya. Bahkan hal yang tragis, akhirnya dia murtad dari Tuhan.

Tetapi Yeremia memberikan satu kepastian dalam hidup ini jika manusia itu mengandalkan Tuhan, menaruh hidupnya pada Tuhan, pasti diberkati. Pasti hidupnya tenag, senang, aman dan tenteram walaupun beraneka ragam ombak yang menerpa bahtera hidup dan rumah tangganya. Bagi orang-orang yang sungguh-sungguh mengandalkan kuasa dan kebesaran Tuhan penderitaan dan tantangan yang menerpa hidupnya bahkan kehilangan orang-orang yang dikasihinya dia pasti  tegar dan kokoh berdiri seperti sebuah rumah yang didirikan di atas batu karang. Seperti pohon yang ditanam di tepi air tidak mengalami datangnya panas terik, daunnya tetap hijau, ia selalu menghasilkan buah.

Semua kita ingin diberkati Tuhan, baik berkat jasmani maupun rohani. Karena itu andalkan dan taruh harapanmu focus hanya kepada Tuhan sebagai sumber berkat tersebut. Amin.

Doa        : Tuhan Yesus, ingatkan kami selalu agar mengandalkan dan menaruh harapan kami hanya kepada Tuhan agar kami akan selalu diberkati Tuhan. Amin.

Pdt. Jahenos Saragih


RUMAH KOST

Sebab di sini kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap ;

kita mencari Kota yang akan datang

(Ibrani 13:140

Seorang anak hamba Tuhan masuk ke universitas di Bandung. Selain mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan akademis, anak tersebut harus mencari rumah kost untuk tempat tinggal selama studi. Setelah bertanya kesana kemari terntyata ada keluarga yang putranya telah lebih dulu kuliah di sana. Mereka menawarkan agar mereka dapat bersama-sama tinggal dalam satu rumah kost. Tempat kost tersebut fasilitasnya lumayan, walaupun harganya juga lumayan. Setelah sama-sama setuju mereka membayar uang kost selama setahun mereka diharuskan menaati peraturan-peraturan yang berlaku di rumah kost tersebut.

Penulis Ibrani dengan tegas mengatakan bahwa di bumi ini kita kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap. Walaupun kita mempunyai rumah seperti istana letaknya sanagt strategis, harganya ratusan juta sampai milyar, semua itu hanya bersifat sementara. Artinya masih ada rumah yang akan kita cari yakni rumah yang kekal yakni sorga yang penuh kebahagiaan. Rumah dan kota yang tidak ada derita dan air mata. Persoalannya adalah apakah pada waktu yang sementara ini kita manfaatkan untuk mencari rumah yang kekal yang telah Tuhan Yesus persiapkan. Anak hamba Tuhan tadi hanya sekitar 4-5 tahun kost di Bandung. Dia harus menaati aturan yang ditetapkan pemilik kost karena ada beberapa temannya yang keluar karena tidak menaati aturan-aturan ditetapkan.

Marilah kita melakukan peraturan yang ditetapkan pemilik rumah yang kekal yakni Tuhan kita Yesus Kristus sehingga setelah kita tiba waktunyameninggalkan tempat tinggal kita yang sementara ini kita memperoleh kota yang indah dan tetap untuk selama-lamanya.

Doa     : Tolong kami Tuhan, agar kami sadar bahwa dunia ini tempat tinggal sementara, sementara kami mencari kota yang tetap yang kekal di rumah Bapa. AMIN.

Pdt. Jahenos Saragih


Kendalikan Dirimu

Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan

serta kepentingan- kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan

jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat

(Luk. 21: 34)

Pengedalian diri adalah hal yang sangat sulit dalam hidup ini. Tepat apa yang disampaikan oleh Napoleon Bonaparte pada puncak kekuasaannya di Prancis yakni seluruh dataran Eropa dapat saya kuasai dan kendalikan tetapi diri dan keinginan saya sangat sulit saya kendalikan.

Karena itulah Yesus menasehatkan dalam konteks Lukas agar selalu berjaga-jaga dalam hidup ni, kendalikan diri, hati dan pikiran kita supaya jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi. Singkatnya Yesus menegaskan agar kita sanggup dan mampu mengendalikan dan menguasai diri kita sendiri.

Ternyata realitasnya di lapangan, sungguh banyak orang yang senang berpesta pora dalam kemabukan, menghabiskan uang, mencari kepentingan-kepentingan duniawi, Yesus mengingatkan agar jangan pada saat pesta pora dan kemabukan atau melakukan hal-hal yang duniawi dan sedang dalam jerat nafsu dan hari Tuhan datang seperti pencuri malam.

Andi seorang ayah di suatu kampung mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang kurang terpuji. Dia menghabiskan harta warisan orang tuanya dengan pesta pora dan mabuk-mabukan. Dia sulit mengendalikan diri, walaupun sudah cukup banyak nasehat-nasehat yang datang kepadanya. Akhirnya Andi jatuh sakit yang parah dan stadium empat. Penyakitnya sulit terobati. Semua harta warisan habis semuanya untuk berobat dan akhirnya meninggal dunia dalam kondisi yang memprihatinkan.

Melalui pengalaman Napoleon Bonaparte dan bapak Andi di atas mengingatkan kita sekalian agar dapat mengendalikan/menguasai diri kita. Menjaga diri, agar hati jangan sarat dengan pesta pora dan memabukan sehingga jjika Tuhan datang pada waktunya, kita sudah siap mengendalikan diri melalui pertolongan dan kekuatan Roh Kudus dan akhirnya kita berbahagia di hadapan Tuhan.

Doa: Ya Roh Kudus, tolonglah kami agar dapat selalu mengendalikan diri dari hal-hal yang jahat yakni pesta pora dan kemabukan agar kami tidak jatuh dalam pencobaan dan hukuman Tuhan. Amin

Pdt. Jahenos Saragih


Segala Sesuatu Berasal Dari PadaMu

Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari padaMu

dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya,

dalam tanganMulah kekuatan dan kejayaan, dalam tanganM lah kuasa

membesarkan dan mengokohkan segala-galanya

(I Taw. 29: 12)

Dalam suatu kota ada seorang Ateis  bernama Nato sedang berdebat dengan seorang guru agama. Inti sari perdebatan mereka adalah tentang “segala sesuatu berasal dari Tuhan”. Nato yang Ateis  tadi menyangkal bahwa Tuhan itu tidak ada. Dia sama sekali tidak percaya bahwa di dalam Tuhan ada kekayaan, kemuliaan, kuasa dan keselamatan. Segala sesuatu yang ada hanyalah kebetulan.

Dengan sangat bijaksana sang guru agama tadi bertanya dan menerangkan dengan analogi yang realis  katanya, “percayakah kamu engkau memuliki ayah ibu? Jawab Nato: “Percayalah dari mana aku ada kalau tidak ada ayah dan ibuku”. Pertanyaan berikutnya disampaikan sang guru tadi. “Percaya jugakah engkau bahwa bapak dan ibumu mempunyai bapa dan ibunya juga, yang artinya nenekmu?” Jawab Nato, “percayalah mana mungkin ada ayahku dan ibuku kalau tidak ada nenekku”. “Kalau demikian percayakah engkau juga jika nenek dari nenekmu sampai ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu sudah ada bahkan sampai kepada Adam dan Hawa”. Jawabnya “ya”. “Karena itu siapa yang menciptakan Adam dan Hawa kalau tidak ada Allah pencipta langit dan bumi atau Alam semesta?” Akhirnya Nato sang Ateis  tadi terdiam dan merenungkan bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan dan kembali kepada Tuhan. Kemudian ia menyadari bahwa Tuhan itu sungguh-sungguh ada.

Saudara siang dan malam orang berusaha mencari kekayaan dan kemuliaan, mencari posisi dan jabatan melalui cara apa dan bagaimanapun dilakukan agar cita-cita dan impiannya tercapai. Kalau boleh melalui cara-cara harampun dihalalkan asal niat permintaanya terkabul. Sesudah dia dan keluarganya mati baru ia sadar bahwa ia tidak mempunyai kemampuan apa-apa.

Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa segalas sesuatu bersadal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Dia yang berkuasa atas segala-galanya. Dalam tangaNyalah ada kekuatan dan kejayaan, ada kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya. Kalau pemahaman dan pengimanan kita sudah sampai ke tingkat ini, maka percayalah hidupmu pasti rendah hati dan tidak sombong karena segala sesuatu (hidup-mati, kaya-miskin) berasal dari Dia dan kembali kepadaNya.

Doa: Ajari dan tuntunlah kami Tuhan agar kami lebih mengimani bahwa segala sesuatu berasal dari padaMu dan kembali kepadaMu. Amen

Pdt. Jahenos Saragih


Berpikir Realis

Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku,

aku berkata pada setiap orang di antara kamu:

Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan,

tapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa

sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman

yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing

(Rom. 12: 3)

Di suatu desa kecil di daerah kabupaten Simalungun ada seorang gadis cantik dan pintar sesuai dengan ukuran di desa tersebut. Boleh dikatakan gadis ini adalah kembang desa yang dipuja dan dipuji setiap pemuda desa atau desa tetangganya yang melihat kecantikannya. Sayangnya gadis desa ini sombong dan angkuh dia tidak mau bergaul dengan pemuda desa atau pemuda yang lain yang datang ke rumahnya. Gadis desa ini bercita-cita dan bermimpi bahwa yang datang melamarnya adalah seorang pemuda tampan, orang kaya, orang kota dan frofesinya sebagai pilot pesawat terbang. Bulan berganti tahun dan tahun berganti tahun terus berjalan akhirnya harapan dan mimpi tidak menjadi kenyataan, akhirnya gadis desa ini menjadi perawan tua dan sampai akhirnya hidupnya tidak menikah.

Dari cerita di atas pesan yang disampaikan oleh Paulus kepada jemaat Roma pada saat itu yang sasaran suratnya adalah orang Yahudi dan non-Yahudi (Yunani dan bangsa lain) dengan filsafat yang tinggi-tinggi, memikirkan hal-hal yang transcendental, yang kadang melampaui akal dan batas pikiran. Berbicara dan berdiskusi, bahkan berdebat dengan hal-hal yang tinggi dan yang dogmatis, sehingga pembicaraan mereka bagi sebagaian jemaat tidak dimengerti dan terjadilah konflik kepentingan.

Melalui teks di atas Paulus mengingatkan kita melaui kasih karunia yang dianugerahkan Tuhan kepada kita agar berpikir realis, sederhana sehingga dapat menguasai diri menurut ukuran iman yang dikaruniakan Allah kepada kita. Kalau kita pinjam istilah saudara kita yang mengatakan think global act local, mari berpikir global tapi bertindak local. Kadang-kadang aneh memang banyak saudara-saudara kita di lapo tuak berbicara, diskusi dan debat tentang kebijakan-kebijakan presiden Amerika Serikat Barack Obama tetapi bicara dan berdiskusi soal makanan keluarganya untuk hari esok pun sudah kewalahan. Etiskah sikap seperti ini mari kita renungkan dalam hidup kita. Marilah berpikir realis dan jangan seperti pepatah mengatakan bagaikan pungguk merindukan bulan.

Doa: Tuhan ajarilah kami agar kami berpikir realis dan begitu rupa sehingga kami dapat menguasai diri menurut ukuran iman yang Tuhan karuniakan untuk kami. Amen

Pdt. Jahenos Saragih