Berbahagialah

Siapa menghina sesamanya berbuat dosa, tetapi berbahagialah orang yang

menaruh belas kasihan kepada orang yang menderita

(Amsal 14:21)

Martin seorang ayah dari keluarga sederhana. Ia mempunyai 3 orang anak. Isterinya hanya seorang ibu rumah tangga. Pekerjaan Martin hanya sebagai buruh bangunan. Tetapi hidup mereka tetap harmonis. Anak dan isterinya tidak banyak menuntut apa-apa seperti keluarga tetangga yang lain. Mereka rajin beribadah. Anehnya, walau keluarga mereka sangat sederhana tetapi keluarga ini sangat peduli dan mau menaruh belas kasihan kepada orang yang menderita. Menurut mereka kebahagiaan bagi keluarga ini, apabila ditengah-tengah kesederhanaannya mereka masih punya kesempatan untuk menolong orang lain. Luar biasa bukan ?

Mereka tidak mau terpengaruh oleh tetangga yang pola hidupnya konsumerisme dan mau menghina sesamanya. Keluarga Martin menjaga kerukunan dan hidup berdampingan dengan orang lain walau berbeda suku dan agama. Karena itulah keluarga ini sangat disenangi di tengah-tengah lingkungan masyarakat dan lingkungan gereja. Mereka hidup jujur dan takut akan Tuhan. Karena itulah hidup mereka selalu diberkati Tuhan akhirnya Bos tempat Martin bekerja mempercayakan jabatan kepadanya sebagai mandor kepala dan hidup mereka menjadi makmur.

Ditengah-tengah perubahan status ekonomi dari yang sederhana kepada kehidupan mapan mereka tetap mempunyai komitmen untuk menaruh belas kasih kepada orang-orang yang menderita. Mereka tidak menjadi sombong, mereka tidak lupa daratan bahkan mereka melihat kekayaan itu hanya karena berkat dan anugerah Tuhan. Berkat dan anugerah Tuhan yang mereka terima mereka pergunakan untuk berbagi kepada sesama sesuai dengan kehendak Tuhan.

Tidakkah banyak diantara kita setelah hidupnya mapan mereka menjadi sombong dan tidak mau memperdulikan orang lain bahkan menghina sesamanya dan berbuat dosa? Tetapi saya yakin saudara dan keluarga yang membaca Sabda Harian meneladani keluarga Martin yang dalam susah dan senang, hidup sederhana dan mapanpun selalu mengucap syukur kepada Tuhan.

Doa    : Ajar dan bimbingan kami Tuhan agar kami berbahagia dalam situasi dan kondisi apapun kami mampu bersyukur kepada Tuhan. Amin.

(JS)

Menjadi Pengantara

Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia,

yaitu manusia Kristus Yesus,  yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia

(1 Timotius 2:5-6a)

Peranan pengantara sangat menentukan dalam hidup ini. Peranan perantara boleh ditinjau dari segi positif dan negatif. Dari segi negatif misalnya peristiwa yang hangat dibicarakan ditengah-tengah pergumulan bangsa kita yakni Makelar Kasus (Markus). Gayus Tambunan dan banyak orang lainnya berperan sebagai Markus. Pengantara kejahatan teroris baik intern dan antar negara. Pengantara bidang perdagangan illegal misalnya barang-barang seludupan, ganja, dan juga perdagangan manusia (trafficking) dan lain sebagainya.

Tetapi melalui Sabda Harian dalam terang Firman Tuhan hari ini dengan tema “Menjadi Pengantara” mengarah kepada aspek positif. Nasihat Paulus kepada anak kekasihnya dalam iman yakni Timotius menerangkan secara jelas dalam suratnya bahwa ada pengantara antara Allah yang esa dengan manusia yang penuh dosa. Pengantara itu yakni Yesus Kristus yang esa pula yang telah menyerahkan diri-Nya dan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi semua umat manusia di bumi ini. Manusia Kristus Yesus yang Maha Kasih, Maha Murah, Maha Kuasa, Maha Kudus dan maha-maha yang lain.

Dalam kemahaan-Nya Dia tampil sebagai pengantara yang luar biasa memulihkan hubungan manusia yang penuh dosa dan kematian kepada penyelamatan dan kehidupan yang kekal untuk selama-lamanya. Sangat luar biasa dan hebat, bukan ? Pengorbanan pengantara Yesus Kristus yang maha besar inilah yang dilihat Paulus sehingga ia juga mau dipakai Tuhan sebagai hamba dan alat-Nya sebagai pengantara dalam pekabaran Injil ke seluruh dunia. Paulus juga mengharap kepada Timotius dipakai Tuhan sebagai pengantara untuk memberitakan firman-Nya.

Dalam realitas hidup sehari-hari di dalam dunia politik banyak orang bangga sebagai Tim Sukses (TS) untuk pemilihan kepala daerah (Gubernur, Bupati, Wali Kota) apalagi pemilihan Presiden. Tetapi tidakkah kita lebih bangga kalau Tuhan yang Maha Esa melalui anak-Nya Yesus Kristus kita diangkat dan dipercayakan sebagai Tim Sukses (TS) atau agen-agen kerajaan Sorga-Nya ? Dipercaya Tuhan sebagai majelis, pekerja, hamba Tuhan di ladang-Nya. Jadilah pengantara yang setia, jujur dan berbakti kepada Tuhan.

Doa    : Sadarkanlah kami Tuhan akan besarnya karya penyelamatan melalui anak-Mu Yesus Kristus agar kami juga mau menjadi pengantara berita Injil-Mu kepada orang lain. Amin.

(JS)